ONGENTITLED

Bagaimana rasanya jika bertemu seseorang yang paham dirimu meski kau tidak berkata apapun tentang dirimu? Menyenangkan bukan? Tidak, lebih tepatnya bahagia. Merasa lebih tenang sebab kau tahu ternyata tidak benar-benar sendirian. Merasa lebih lega karena ada tempat dimana dirimu sebenarnya lah yang hadir. Bukan topeng yang sering dipasang menunjukkan sisi ramah, humoris, banyak bicara, dan tegas. Suatu hal yang benar-benar menyedot habis seluruh tenaga. Di hadapannya kau mampu menangis tanpa peduli seburuk apa tampilan wajahmu, lalu tertawa seluas-luasnya karena ia selalu mengucapkan apapun dengan volume suara yang super kecil, membuat dirimu seolah manusia paling bolot yang hidup di sejarah peradaban bumi. Atau bahkan kau bisa mendiamkannya selama setengah jam meski ia berada di sebelahmu, ah ia juga tidak mengucapkan apapun. Hanya diam, asik memikirkan dunianya. Ia selalu hadir meski kau tidak mengharapkan kehadiran siapapun, meski dari lubuk hati paling dalam kau mau satu atau bahkan kalau bisa setengah jiwa manusia tahu kalau kau sebenarnya butuh kehadiran.

Bagaimana jika ia hadir melebihi ekspetasimu? Kau hanya ingin ia sekadar hadir dan memberi penenang sesaat ketika badai melanda dirimu. Memberi pegangan saat kau benar-benar terguncang. Ia nyaris selalu hadir memberimu seluruh ketenangan yang kau butuhkan. Ia hadir jauh lebih lama dari yang kau pikirkan, memberi kesan yang lebih dalam dari yang dilihat. Bahkan mengerikannya, ia meninggalkan jejak di sudut ruang yang sudah kosong sejak lama. Sengaja tidak diberi penghuni sebab si pemilik enggan untuk membersihkan sisa-sisa peninggalan jika lagi-lagi penghuninya meninggalkan tanpa peringatan, membiarkan segalanya berantakan dan rusak di dalamnya. Ia hadir seolah membuang peninggalan dan memberi tanda bahwa ia ingin menghuni, membayar uang muka dan mencicil sisanya.

Berhenti membicarakan ruang kontrakan hati yang sungguh tidak penting itu, kembali ke inti.

Kau menemukannya, setengah dunia yang selama ini kau cari. Pencarian yang susah payah, penuh kesesatan, dan arul rintang yang tidak tentu. Menemukan tujuanmu, menemukan salah satu alasan bahwa dirimu ingin memperpanjang durasi hidupmu dan mewarnainya. Ia tidak mengkhianati, menyambut dan membuka nyaris seluruhnya padamu. Memberimu kesempatan untuk mengenalinya lebih jauh. Bahwa ia nyaris sama sepertimu, bedanya ia tidak memasang topeng yang terlalu mencolok sepertimu. Sejak awal ia sudah terlihat cukup gelap, kelam, dan sulit didekati.

Kau bahagia sekali. Sangat bahagia. Hingga satu harapan yang sedikit melunjak muncul. Bisakah kau dengannya bersama? Berbagi cerita bagaimana keadaanmu hari ini? Atau bisa juga kau yang berceloteh mengenai bagaimana beratnya kelas hari ini, bagaimana teman cowok mu berperilaku sangat aneh hari ini. Bahkan kau ingin menangis di hadapannya tanpa alasan, kau merasa sesak dan butuh menangis, tanpa sendirian. Kau mungkin juga berharap bisa pergi mencari makanan entah sekadar mi goreng kesukaanmu atau bahkan berbicara selama mungkin di coffee shop.  Kau ingin ia selalu ada di sisimu, tidak peduli apakah berteman atau bahkan lebih dari sekadar itu.

Nyatanya memang semua harapan tidak pernah nyata bagimu. Semuanya semu bahkan lenyap. Ia bagaikan jin lampu yang memberikanmu tiga permintaan lalu tak mampu memberikan permintaan ke empat meskipun sebenarnya ia sangat ingin. Apa daya ia memegang keteguhan bahwa ia tak bisa melanggar perintah untuk memberi tiga permintaan saja. Lagi lagi kau hancur.

Kali ini hancur seutuhnya.

7.12//08.03.20

Diterbitkan oleh maladafii

Rasanya rancu bukan, melihat tulisan tulisan yang bertolak belakang dengan kepibradian?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai