“Salah tidak jika aku berharap suatu saat nanti, antara kau dan aku mengelilingi Jakarta, saling bergenggam tangan. Seolah hanya kau yang ada di mataku, lalu sebaliknya.” suaraku membelah keheningan yang sudah menyelimuti selama lebih dari lima menit.
Dia yang berdiri di sebelahku hanya terdiam, namun senyum tipisnya mengembang samar. Rambut hitamnya yang halus bergerak pelan karena angin dingin di malam hari yang terus bertiup. Hidungnya tampak sedikit memerah, mungkin karena suhu dingin yang mulai membuat tubuh mengirimkan sinyal untuk segera berpindah ke tempat yang lebih hangat. Matanya sama sekali tidak berpaling dari pemandangan yang terbentang dihadapannya. Pemandangan kerlap kerlip lampu dari rumah, jalan raya, dan kendaraan yang berlalu lalang terlihat dengan sempurna dari atas bukit ini.
“Bahkan memikirkan akan pergi ke sana saja tidak.” tiba-tiba suara rendahnya menyapa indera pendengaranku. Namun ia masih sama, tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Aku mendengus pelan, namun cukup membuat ia mendengar lalu mengalihkan pandangannya padaku. “Memang kenapa dengan Jakarta? Dan mengapa harus bergenggaman tangan?” ia bertanya dengan nada yang datar, sebuah hal yang memang sudah melekat dengan dirinya. Nyaris tidak pernah ia menampilkan berbagai emosi di wajahnya.
Aku mendadak merasa gugup saat mata tajamnya menatapku, kepalaku otomatis bergerak mengalihkan diri darinya. Kedua tanganku saling mengaitkan di depan tubuhku, meski tidak terlihat karena tenggelam oleh lengan jaketku yang cukup besar. “Salah satu impian kecilku.” hanya itu yang kukatakan. Ku dengar ia hanya bergumam, meminta penjelasan lebih lanjut. Tentu saja aku akan melanjutkan. “Jakarta adalah surga saat malam hari, lampu dari berbagai gedung pencakar langit, tempat makan yang luar biasa –“
Ia tiba-tiba tertawa. “Kau benar-benar pecinta makanan ya.” potongnya. Tawanya tampak begitu puas, membuatku terkesima melihatnya. Ia merasa bahwa dirinya dilihati, seketika meminta maaf, “ Ah, aku memotong pembicaraanmu ya? Aku tidak bermaksud kok, cepat-cepat lanjutkan.” Ia mengucapkannya namun tawa kecilnya masih terus terdengar.
Aku sedikit cemberut, namun tetap melanjutkan. “Yah intinya aku ingin berkeliling Jakarta sambil bergengaman tangan. Rasanya jika kau bergenggaman tangan dengan orang yang kau inginkan itu, benar-benar indah.” aku menutup ucapan anehku itu dengan kekehan kecil.
Kudengar ia menghembuskan nafasnya sedikit keras, membuatku mau tidak mau menoleh ke arahnya. Ia menatapku, tepat di manik mataku. Hal yang membuatku terpaku tentu saja. Tatapanya adalah kelemahanku. Tidak, ia adalah sumber kelemahanku juga sumber kekuatanku. Ia adalah satu-satunya orang yang tak banyak bertanya ketika aku menangis keras tanpa sebab, hanya menungguku hingga sedikit tenang pun ia tidak bertanya sama sekali mengapa aku menangis, ia tetap diam di sebelahku hingga akhirnya akulah sendiri yang akan bercerita. Sosok yang duduk diam di sebelahku sembari memainkan handphonenya ketika aku memilih menyendiri dan tidak berbicara sama sekali pada siapapun. Ia tahu, di saat aku menyendiri di sanalah aku membutuhkan seseorang. Ia yang juga diam-diam sering memperhatikanku saat diriku sedang ‘menggila’ dengan teman-temanku, ia melihat dari jauh dan aku tahu ia melihatku meski aku memilih berpura-pura tidak tahu.
“Kenapa denganku?” ia tiba-tiba bertanya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantung hoodie hitam kesukaannya –aku tahu karena hampir setiap saat ia mengenakan itu. Tubuhnya ia senderkan di sebuah pohon besar di belakangnya, matanya masih lurus menatapku.
“Karena…” aku bingung, tidak siap sama sekali untuk melanjutkannya. Tidak siap karena kalimat selanjutnya adalah sebuah pengakuan yang nyaris setengah tahun ku pendam. Takut jika ia mendengarnya ia akan menjauh, menghilang dari pandanganku, membayangkannya saja aku sama sekali tidak mampu. Kepalaku mendadak terasa penuh dengan perkataan “Jangan terburu-buru bodoh.” namun hatiku bersuara kecil, “Inilah saatnya”. Mampuslah aku dikoyak oleh kebingungan ini.
Akhirnya aku memilih mengangkat kepala, balas menatapnya lekat-lekat. Dan meluncurlah kalimat selanjutnya yang sudah kupikirkan matang-matang. “Entah, hanya kau yang terlintas di kepalaku.” Singkat, namun cukup menjelaskan semuanya.
Ia tampak terkejut namun dengan cepat menutup keterkejutan tersebut dengan berdeham. Wajahnya dipalingkan ke samping sepertinya ia salah tingkah. Menggemaskan sekali. Lalu beberapa saat kemudian kepalanya kembali menghadapku. Tidak ada ekspresi apapun di sana, jadi sulit menerka apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
Merasa canggung total, aku memalingkan badan. Memandang langit malam yang cerah terbukti dengan beberapa titik bintang yang terlihat. Tanpa sadar tanganku bergerak untuk saling menggosok, suhu semakin dingin dan sialnya aku bukanlah tipe manusia yang tahan dengan suhu terlalu rendah. Hidungku rasanya nyaris membeku, oh bisakah ia mengatakan sesuatu atau beranjak dari tempat ini?
“Dingin ya.” Seolah bisa membaca isi pikiranku, ia berkata sambil menaikkan resleting jaketnya. Menutupi nyaris seluruh lehernya. Sebelah tangannya merapikan helaian rambutnya yang agak berantakan. “Kabut juga semakin tebal,” lanjutnya.
Aku hanya mengangguk. Merasa aneh bahwa ia sama sekali tidak terganggu dengan pengakuanku tadi. Berbagai spekulasi jawaban melintas di otakku. Apakah ia akan menjauh? Apakah ia tidak peduli, karena sejak awal memang ia tidak peduli? Aku merutuk atas kebodohanku yang benar-benar tidak dapat diampuni.
“Hey, berikan tanganmu.” Suaranya tiba tiba membuyarkan rutukan tidak sopanku.
Aku menatapnya bingung. “Tangan?” namun aku tetap memberikan telapak tangan kananku padanya.
Sepersekian detik kemudian adalah mimpi. Tidak, ini nyata. Entah aku tidak peduli apakah ini mimpi atau tidak, ini benar-benar di luar dugaan. Sesaat setelah aku mengulurkan tangan, telapak tangannya menggenggam tanganku, menutupi seluruh telapak tanganku dengan telapaknya yang cukup besar. Hangat, itulah yang kurasakan saat ia menggenggamku. Tangannya tidak seperti orang yang sedang berada di tempat yang dingin. Ia menggenggamku dengan erat, tampak gugup dengan perilakunya sendiri. Wajahnya pun sama sekali tidak melihatku, kentara sekali kalau ia malu. Aku? Jangan tanyakan aku, aku sudah di langit ke tujuh sekarang.
“Hm, ternyata menyenangkan,” ujarnya tiba-tiba, dan tanpa kuduga ia sudah menatapku dengan senyum kecilnya.
Sumpah, aku tidak sanggup melihatnya. Jadi aku hanya menunduk, menatap tanganku yang bertaut dengan tangannya. “Apa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku.
“Menggenggam tanganmu, ternyata semenyenangkan ini.”