Segelas Teh dan Sejumput Lara

   “Teh hangat?”

   Segelas teh yang tampaknya masih cukup panas –terlihat dari asap yang mengepul di atasnya diulurkan padaku. Aku menoleh, melihat siapa sosok yang memberikannya dan setelah melihatnya aku tersenyum kecil lalu mengambil gelas tersebut. Menggenggam gelas berwarna putih gading itu dengan kedua tanganku, menyalurkan panas dari gelas tersebut ke tanganku. “Terima kasih,” ucapku pelan lalu meminum sedikit teh itu. Ah, rasanya pas. Tidak terlalu manis dan tidak terlalu tawar.

   Terasa kursi di sebelahku berderik perlahan, tanda bahwa sosok yang memberikanku teh itu duduk di sebelahku, pun sembari menyeruput minumannya. Tampaknya segelas es latte yang selalu ia pesan jika sedang ke kedai kopi. Tiba-tiba aku merasa tergelitik, aku kan sedang berada di kedai kopi, mengapa ia memberikanku segelas teh hangat?

   “Hari yang berat harus diobati dengan teh hangat.” Belum saja sempat kutanyakan, ia sudah berkata menjawab pertanyaan yang mengambang di kepalaku. Ia tampak tenang menatap keramaian jalan raya di malam hari dari balkon kedai ini. Sesekali tangannya bergerak mengaduk lattenya dengan stainlees straw berwarna silver yang selalu kiubawa kemana-mana untuk kami berdua –berjaga-jaga jika mendadak ingin membeli minuman sekaligus mengurangi sampah plastik yang sudah tidak terhingga jumlahnya.

   Mendengar jawabannya, sebelah alisku terangkat. Agak familiar dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan. “Hei itu kan ucapanku!” Mengingat bahwa itu adalah ucapanku sendiri ketika ia bertanya mengapa aku selalu membawa segelas besar teh hangat ketika pergi ke kampus. Alasannya sederhana saja, ketika sedang pusing dengan tugas yang menumpuk setinggi Gunung Merapi, sakit perut akibat semalam berpesta seblak dengan tingkat pedas yang sebenarnya aku tidak mampu tolerir, atau bahkan ketika masa bulananku datang hingga rasanya tidak mampu duduk, segelas teh hangat selalu hadir untuk meredakan segalanya.

   “Tentu saja aku ingat.” Kali ini ia menyuapkan sepotong roti bakar coklat ke dalam mulutnya. “Kau bahkan pernah berkelakar karena dokter kecil di jaman SD hingga SMA lah yang menginspirasimu kalau teh hangat adalah obat segalanya,” lanjutnya. Raut wajahnya seperti mengejek begitu mengulangi alasan anehku begitu mencintai minuman berwarna coklat tersebut.

   Aku menjitak dahinya, menyebabkan secara spontan ia langsung memelototiku dan sedikit menjauhkan posisinya dari sampingku. Namun hanya sesaat, sebab ia langsung kembali menggeser kursinya mendekatiku. Ia melepaskan jaket abu-abu favoritnya –disamping jaket hitamnya yang selalu ia kenakan kemanapun ia pergi. Lalu meletakkannya di atas meja. Sebelah tangannya bergerak untuk mengacak-acak rambut hitamnya sehingga aroma shampoo yang ia gunakan sedikit tercium indra penciumanku, aroma mint. Aku tetap memerhatikan pergerakannya dalam diam sampai ia menghadapkan tubuhnya untuk berhadapan denganku.

   “Ada apa?” tanyanya. Satu pertanyaan yang selalu ia lontarkan begitu melihat diriku lebih banyak diam daripada seharusnya. Aku justru merasa aneh jika kau tidak banyak berteriak, tertawa tidak tahu diri, dan memukuli siapapun ketika tertawa, begitu katanya pada suatu hari. Ia tidak menatapku, tampak sibuk menyingkirkan parutan keju yang menggunung di atas roti bakarnya lalu dikumpulkannya keju tersebut di sebuah sendok kecil yang seharusnya digunakan untuk mengaduk teh hangatku. “Ini, kau suka keju kan?” tanpa banyak bicara, ia langsung menyerahkan gagang sendok itu ke arahku, terlihat juga ia tidak memaksaku untuk langsung bercerita. Ia memilih menungguku berbicara.

   “Biasa.” Hanya itu yang kuucapkan dengan nada datar namun di telingaku lebih seperti nada sedih yang rasanya sudah tidak berujung. Aku memilih meletakkan gelas yang sejak tadi kugenggam ke meja lalu mengambil sendok berisi parutan keju tersebut dan mengarahkannya ke dalam mulutku. “Ayah, lagi-lagi berulah.” Aku mengucapkannya sembari mengunyah, tidak peduli terlihat sopan atau tidak di depannya, aku tidak peduli. Toh ia sudah lama berteman denganku, dan sudah nyaris memamklumi perilaku ku yang sama sekali tidak ada anggun anggunnya.

   “Hm…” Ia menggumam, sepertinya sudah tahu apa yang terjadi padaku. Sejak awal berteman denganku, ia mengetahui permasalahan terbesarku. Aku tidak pernah memiliki hubungan yang baik dengan ayahku. Sejak awal aku bak robot baginya, memenuhi ambisinya yang tidak dapat ia raih lalu memberikan segala bebannya padaku. Tidak ada satupun yang dapat menolongku keluar dari lingkaran setan tersebut. Menyebabkan diriku terjebak di dalam kehilangan jati diri atas diriku sendiri selama nyaris dua puluh tahun usia ragaku bernapas. Pun aku telah berusaha untuk lari, namun ternyata cengkramannya lebih kuat. Rantainya terlalu kencang terpasang di leherku, menyebabkanku tak bisa kemana-mana.

   Aku menghela napas pelan, lebih ke arah merasa sangat putus asa. “Ia bertanya padaku, apa rencanaku ke depannya.” Aku bahkan enggan memanggilnya dengan sebutan ‘beliau’. Rasa respectku padanya semakin hari semakin menipis. Pun jika ditambah dengan beberapa kekerasan fisik yang kuterima saat kecil dan kekerasan verbal yang terkadang masih berlangsung hingga saat ini dengan dalih kedisiplinan semakin membuatku merasa bahwa aku tidak memiliki sesosok ayah yang hangat dan ideal. Ayah mana yang membuat putrinya menjadi takut hanya karena suara teriakan dan bentakan? Ayah mana yang membuat putrinya nyaris tidak memercayai bahwa ada sosok yang bisa dijadikan sandaran ketika putrinya sedang bersedih?

   “Lalu?” ia mengalihkan pandangannya dari piring roti bakarnya yang sejak tadi mencuri perhaiannya, lalu beralih menopangkan dagunya dengan tangannya dan menatapku dengan tatapan tajam namun meneduhkannya.

   “Tadinya aku memilih enggan menjawab, lagipula kita masih di semester awal. Aku bahkan masih tidak bisa membedakan apa itu ekskresi dan sekresi. Tapi ia memaksa, lalu kujawab saja keinginanku untuk mengambil spesialis kejiwaan.” jeda sejenak, tiba-tiba rasa sesak melingkupi dadaku. Aku langsung meraih gelasku dan meminum isinya. Merasa lebih baik, aku melanjutkan, “Begitu mendengarkannya, ia langsung membantahku. Bahkan tidak mau mendengarkan alasanku mengapa aku memilih itu. Ia langsung menceramahiku bahwa itu adalah bagian tidak jelas. Lalu dengan sok jumawanya ia hanya merestuiku untuk masuk bagian maternitas, dan seperti biasa ketika lulus nanti aku langsung disuruh mendaftar prajurit karir. Bah! Bahkan melihat ia mengenakan seragam tentara saja aku sudah muak!” Seluruh emosiku mendadak mengumpul di tenggorokanku.

   “Mau sampai kapan aku bukan aku? Sampai aku mati? Kalau begitu mengapa aku tidak mati sekarang saja? Toh sama saja, ragaku yang meninggal namun entah siapa jiwa yang menghuni tubuhku.” Aku sadar, ini terlalu kelewatan untuk diungkapkan kepada sosok laki-laki di hadapanku ini. Ia sudah tahu terlalu banyak tentangku. Kedua mataku terasa panas, air mata rasanya sudah mengumpul di pelupuk mata. Memalingkan wajah, dengan cepat aku meminum teh yang mulai mendingin. “Maaf, kau pasti lelah kan mendengar masalahku,” ujarku tanpa memandangnya sama sekali.

   Ia tidak menanggapi ucapanku, malah bergerak menyeret kursinya semakin mendekat padaku. memosisikan tubuhnya menghadap balkon kedai, posisi yang sama sepertiku. Lalu kudengar ia menghembuskan napasnya panjang.

   Aku sedang mati-matian menahan tangisanku yang rasanya sudah memaksa untuk dikeluarkan saat ini juga. Ditambah suasana kedai yang tidak terlalu ramai dan lagu bertempo lambat semakin mendukung suasana untu menangis. Tidak, aku hanya tidak ingin menangis lagi di hadapannya. Entah yang keberapa kalinya jika kali ini aku menangis lagi ketika bersamanya.

   Tanpa peringatan, sebuah tangan yang kuyakini adalah tangannya menarik kepalaku. Hingga kurasakan kepalaku menyentuh sesuatu yang keras namun cukup nyaman ketika bersandar di sana. Bahunya. Ia menarikku untuk bersandar di bahunya. Aku tidak bergerak, membiarkan kepalaku berada di sana sembai menatap kendaraan yang berlalu-lalang di bawah. Pun setelah membuatku bersandar di bahunya, ia memilih meminum sisa lattenya yang tinggal setengahnya hingga tandas. Diam-diam aku menarik napas, aroma khas sabun menyeruak begitu aku menarik napas. Kami terdiam, sama sama membiarkan waktu berjalan dengan tenang.

“Aku tidak jago untuk memberikan kata-kata penenang,” ucapnya setelah entah berapa lama kami terdiam. Tangannya bergerak memelintir kertas bon pembayaran kami di kedai ini, membiarkannya menjadi gulungan kertas yang sangat kecil. “Tapi setidaknya aku ingin kau bercerita, ku mohon jangan pendam semuanya sendirian. Kau terlalu berharga untuk menanggung segalanya sendirian.”

   “Lalu menangislah, kau berhak menumpahkan segala sesuatu yang membebani bahumu dengan air mata. Kau adalah manusia. Sangat wajar jika kau menangis ketika segala sesuatu rasanya membuatmu berada di penghujung harapan. Bagiku lebih baik rasanya jika kau menangis histeris di hadapanku daripada kau melukai tanganmu.” Ia merujuk pada garis-garis panjang berwarna kemerahan yang terlukis di pergelangan tanganku.

   “Meski kau menjadi orang lain di hadapan keluargamu dan banyak orang, kuharap kau mau menunjukkan dirimu yang sebenarnya di hadapanku. Setidaknya biarkan kau merasa bebas meski hanya di hadapan satu orang saja. Dan aku selalu terbuka menerimamu apa adanya.”

   Aku terisak pelan. Kata-katanya begitu menyentuhku hingga rasanya nyaris separuh bebanku terangkat mendengar ucapannya. Tangannya mengelus kepalaku pelan, membiarkanku nyaman dengan isakanku sendiri.

   “Mungkin bagimu rasanya terlalu sulit, namun kuharap kau mau tetap berjuang melanjutkan hidupmu.

Diterbitkan oleh maladafii

Rasanya rancu bukan, melihat tulisan tulisan yang bertolak belakang dengan kepibradian?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai