Menjadi Tidak Baik-Baik Saja Adalah Hal yang Biasa Saja

Bagaimana rasanya jika nyaris seluruh usia hidupmu kini, selalu berada di dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan?

Memiliki banyak masalah, namun tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menyelesaikan bahkan mengungkapkannya. Terlalu banyak ketakutan dan kecemasan dalam menerka ketika ingin mencoba terbuka. Yang pada akhirnya malah memilih untuk berdiam dan memakan semuanya sendirian dan bertindak seolah tidak ada apapun yang terjadi. Semua terlihat menyenangkan, terlihat baik-baik saja.

Mari kuceritakan sebuah fakta dari diriku sendiri.

Alasanku berkuliah jauh dari keluarga bukan karena aku memang ingin berada di sana. Bahkan aku tidak pernah melihat kampus yang kini menjadi tempatku menempuh pendidikan selama beberapa tahun ke depan sebelumnya. Modal nekat, asal pilih, dan syukurlah aku diterima. Aku ingin kabur, melepaskan diri dari jeratan lingkungan keluargaku yang nyaris membuatku menjadi sosok yang tidak pernah baik-baik saja.

Sejak kecil baik aku dan adik-adikku tidak pernah diizinkan menangis untuk mengekspresikan kekecewaan kami, bahkan kami kalau bisa dilarang untuk merasa kecewa. Aku besar dalam lingkungan yang harus mengiyakan segalanya, tanpa bisa bersuara mengenai apa yang salah dalam sistematika keluargaku. Aku tidak pernah mendengar ucapan permintaan maaf ketika ayahku melakukan kesalahan yang sungguh luar biasa menyakiti hinga ujung terdalam perasaanku, malah membalikkan seolah aku lah penyebab segalanya. Aku tidak pernah mendapatkan penghiburan dari ibuku ketika aku menangis semalaman karena perbuatan ayahku dan memintaku untuk menerimanya saja, tapi aku tahu ibuku juga sama terlukanya dengan diriku namun kupikir beberapa perasaannya telah mati karena terlalu terbiasa menjadi sosok yang menerima dan mematuhi apapun tentang suaminya. Bahkan jika ditelisik lebih dalam, sesungguhnya aku tidak pernah mendengar “Apakah kakak baik-baik saja?” dari kedua orang tuaku dan adikku. Tidak ada yang peduli apakah perasaanku baik baik saja selama 19 setengah tahun aku bernapas. Aku hidup dengan finansial yang sangat memuaskan namun kesehatan jiwaku berada di titik 0.

Segalanya kulalui dalam diam, membiarkan segalanya menumpuk di dalam hingga rasanya sesak selalu menghantui pernapasanku. Tidur yang tidak tenang, bahkan tidak mampu berkonsentrasi pada apapun.

Hingga sampai pada waktu aku hidup sendiri, jauh dari jangkauan keluargaku. Aku menemukan mengapa hidupku merasa tidak nyaman selama ini. Setelah aku bertemu beberapa orang baru yang tidak mengenaliku sama sekali sebelumnya, aku menemukan jawaban atas pertanyaanku yang mungkin sudah menjamur di dalam diriku.

Aku tidak pernah mengakui bahwa diriku sedang tidak baik-baik saja.

Aku selalu merasa bahwa diriku sanggup menahan semua masalah dalam diri, merasa jika aku tampak memiliki masalah aku adalah manusia paling lemah di muka bumi. Padahal semakin aku memendamnya, aku malah semakin terlihat seperti manusia yang payah karena lemah akibat digerogoti masalah dari dalam.

Setelah diriku mulai sedikit demi sedikit berdamai dan mengakui bahwa aku tidaklah selalu dalam keadaan yang baik, hidupku mulai perlahan membaik. Meski segalanya tidak pernah kuceritakan kepada teman terdekatku, mengungkapkannya lewat tulisan juga sudah sangat memberiku kekuatan.

Bahwa kita hanya perlu mengakui pada diri sendiri, kalau kita tidak selamanya akan baik-baik saja.

Tidak apa-apa jika kamu merasa kamu sendiran. Tidak apa-apa jika kamu merasa gagal dengan pencapaianmu. Tidak apa-apa jika kamu merasa kehilangan. Tidak apa-apa jika kamu menangis dan marah tanpa sebab. Tidak apa-apa jika kamu merasa dirimu merasa uring-uringan. Tidak apa-apa jika kamu berkeluh atas apa yang terjadi hari ini. Tidak apa-apa jika kamu kecewa pada dunia.

Semua orang akan merasakan tidak baik-baik saja, pasti setiap kepala memilika fasenya masing-masing. Bak hal tersebut merupakan jatah setiap individu.

Namun jangan lupa, kamu wajib untuk bangkit agar dirimu pulih kembali.

Merasa tidak baik-baik saja adalah hal yang biasa saja untuk kita semua.

Diterbitkan oleh maladafii

Rasanya rancu bukan, melihat tulisan tulisan yang bertolak belakang dengan kepibradian?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai