Resensi Buku “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki”

Cover buku
Sinopsis buku

Judul buku                  : Membunuh Hantu-Hantu Patriarki

Penulis                         : Dea Safira

Penerbit                       : Penerbit Jalan Baru

Jumlah halaman        : x + 196 halaman

Tahun terbit                 : 2019

Buku “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki” merupakan salah satu dari banyaknya buku yang membahas tentang feminisme; sebuah gerakan yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan. Feminisme yang selama beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan yang hangat di banyak kalangan terutama di media sosial.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini karena melihat postingan di media sosial Instagram toko buku daring kesukaan saya, ditambah dengan rasa penasaran saya yang cukup dalam untuk mengetahui lebih jauh mengenai gerakan feminis itu sendiri (terutama di kalangan masyarakat Indonesia yang melanggengkan budaya patriarki yang begitu kuat sejak dahulu).

   Buku ini dibagi menjadi tiga bab dan 38 sub-bab yang memberikan penjabaran berbeda antara satu dengan lainnya. Bab pertama yaitu “Pemikiran Perempuan”, Dea selaku penulis buku membawa pembaca untuk berkenalan dengan gerakan feminis yang ternyata gerakan ini tidak hadir pada beberapa waktu terakhir tapi sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. Kemudian mematahkan anggapan bahwa gerakan feminis adalah produk bagian barat bumi yang sama sekali tidak sesuai untuk diterapkan di Indonesia yang menganut adat ketimuran. Bab ini juga membahas keterkaitan antara ideologi nasional yaitu Pancasila dengan feminis.

   Beralih pada bab kedua yang diberi judul “Membangun Cinta Setara” Dea lebih banyak menuliskan hubungan percintaan dari sudut pandang feminisme. Yaitu bagaimana seharusnya dalam suatu hubungan antara dua manusia tidak hanya banyak menguntungkan pihak laki-laki saja serta menjadikan perempuan memiliki peran sekadar objek seksual, mesin reproduksi, dan stigma tidak menyenangkan lainnya yang sudah berkembang luas di masyarakat. Tidak melulu soal memberi kritik pada hubungan berpasangan yang terlalu patriarkis, pada bab ini juga memberi bahasan berupa bagaimana kita tidak seharusnya menghakimi seseorang yang memilih untuk tidak menikah (sekaligus usaha untuk memberi pandangan apakah kita perlu menikah atau tidak ditelisik dari tujuan hidup ke depannya). Ada pula pembahasan mengenai bagaimana seharusnya memuji tubuh entah hanya untuk sekedar memuji atau ingin menarik perhatian, yang ketika dibaca memberikan pengetahuan bahwa ternyata memuji pun bisa menyakiti perasaan seseorang. Saya pribadi sangat menyukai bab ini, terutama pada sub-bab “Bahagia Sebelum Menikah”. Meski ketika dipikirkan usia saya masih sangatlah jauh untuk membahas pernikahan tapi begitu membaca sub-bab ini saya memiliki paradigma baru mengenai seberapa cepat waktu dan seberapa pentingkah relasi pernikahan bagi saya.

Jangan sampai karena kita tidak bahagia dengan diri sendiri, akhirnya menuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Atau, kita ternyata tidak senang dengan diri sendiri sehingga mengharapkan orang lain untuk membuat kita senang” –hal 102.

   Menuju bab terakhir yaitu “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki” Dea memberi banyak kritik pada paham patriarki (perilaku yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu) yang sudah begitu mendarah daging dalam ruang lingkup masyarakat. Mulai dari pergerakan organisasi mahasiswa yang mayoritas masih menjadikan laki-laki sebagai pihak pengambilan keputusan, narasi media yang masih saja menyudutkan korban pelecehan maupun kekerasan seksual, hingga ‘teror dosa’ yang menyatakan bahwa perempuan merupakan lading dosa bagi para kaum laki-laki patriarki.

   Semuanya ditulis oleh Dea dalam bentu esai. Meskipun berbentuk demikian saya rasa Dea Safira cukup berhasil membuat pembaca memahami betapa rumitnya hidup menjadi perempuan di negara yang mengagungkan maskulinitas ini. Tulisannya mampu menggerakkan pembacanya (terutama saya sendiri) untuk menyadari bahwa patriarki memang seharusnya tidak perlu ada lagi untuk mengurusi ruang lingkup kehidupan.

   Kelebihan buku ini adalah cara penulisannya yang tidak begitu kaku, sehingga pesan yang disampaikan dengan mudah diterima dan dipahami oleh pembaca apalagi bagi yang baru mengenal paham feminis dan ingin mencari tahu lebih lanjut mengenai gerakan tersebut.

   Sedang kekurangan yang saya tangkap dari buku ini adalah karena buku ini merupakan kumpulan esai sehingga penulisannya cenderung subjektif sehingga bisa saja menimbulkan perbedaan pandangan dalam pembahasan setiap topik di dalamnya tapi setidaknya dapat memberikan kita informasi dari adanya perbedaan sudut pandang yang ada.

  Maka dari keseluruhan buku yang saya baca ini saya memberikan rating pribadi : 4/5.

NB : Berikut ini adalah kutipan yang saya sukai dari buku ini

Bentuk berserah diri perlu dipraktikkan oleh setiap manusia. Tak hanya perempuan, tapi juga laki-laki. Bentuk penyerahan diri yan dimaksud adalah berserah kepada pencipta, sang Khalik, atau bahkan kepada diri sendiri, bukan bentuk penyerahan terhadap orang lain. Berserah diri adalah bentuk kekuatan yang bahkan kekuatan otot tak dapat memiliki” -hal 26 dan 27.

Negara yang maskulin tidak pernah melihat perempuan sebagai manusia yang berdaulat dan hanya menempatkannya bagai kepemilikan laki-laki” -hal 32.

Sejarah perempuan tidak pernah berhenti dalam urusan rumah tangga saja. Dari ribuan tahun, perempuan telah menjadi agen dalam membangun peradaban” -hal 43.

Banyak laki-laki yang juga menjadi korban kekerasan seksual, namun banyak yang tidak mau berbicara karena takut dianggap sebagai laki-laki lemah. Padahal, bukan itu masalahnya. Feminisme juga memberikan ruang untuk laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual” -hal 119.

Diterbitkan oleh maladafii

Rasanya rancu bukan, melihat tulisan tulisan yang bertolak belakang dengan kepibradian?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai