Pamit.

Bagian samping dari gedung perpustakaan universitas merupakan tempat favorit bagi sebagian besar mahasiswa untuk menyelenggarakan rapat –entah mengenai organisasi atau pengadaan acara tertentu. Meski tidak ada apapun selain duduk di lantai putih yang dingin, suasananya yang cukup tenang dan angin yang lembut bertiup menjadi faktor utama yang menjadikan tempat ini sebagai tempat berkumpul yang sangat murah meriah –dibandingkan ketika berkumpul di tempat makan tertentu yang sudah pasti akan merogoh isi dompet anak kost yang sungguh tidak seberapa.

Pun tempat ini juga menjadi salah satu spot terbaik bagiku di kampus, terutama saat malam hari. Sebab kalau matamu jeli akan terlihat pemandangan lampu-lampu kota yang menyala, suara jangkrik atau bahkan tokek sesekali akan menambah suasana alam yang semakin menjiwai. Dan jangan lupakan aroma pepohonan yang khas yang begitu terhirup akan memberikan sedikit kelegaan setelah seharian penuh beraktifitas.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku sedikit terperanjat ketika sebuah suara menyapa indra pendengaranku. Karena sejak tadi aku memilih untuk menyingkir dari teman-temanku yang tertawa hingar bingar sembari menunggu rapat yang tak kunjung dimulai, padahal waktu sudah semakin larut dan aku ingin cepat-cepat merebahkan diri di kasur indekosku yang sangat nyaman.

Orang yang bersuara barusan itu berjalan menghampiriku, lalu tanpa meminta izin ia langsung duduk dan meluruskan kakinya di sebelahku. Ia tak menatapku sama sekali dan lebih memilih menatap dedaunan yang sedikit bergoyang karena tiupan angin.

“Baik.” Hanya itu yang ku ucapkan. Aku merasa canggung setengah hidup di dalam situasi seperti ini, berdua dan menyingkir dari keramaian. Aku sedikit bergeser dari posisiku semula untuk memberi sedikit jarak dengannya.

Tampaknya ia menyadari bahwa aku agak menjauh darinya, jadi ia memalingkan wajahnya dan menatapku tampak tidak puas dengan jawaban singkat atas pertanyannya. “Hanya itu? Kita bahkan sudah satu tahun tidak bertemu.”

Aku menoleh ke arahnya dengan ragu, ia masih tetap sama. Ia masih seperti laki-laki yang terakhir kutemui satu tahun yang lalu, saat sebelum pandemi menyerang sehingga memaksa keadaan untuk memisahkan aku dengannya. Rambut hitam legamnya yang selalu terlihat acak-acakan, bulu matanya yang lentik, kulit bibirnya yang selalu kering hingga pernah aku menceramahinya tentang betapa pentingnya pelembab bibir untuk semua gender, dan yang paling tidak berubah sama sekali adalah jaket hitamnya yang selalu ia kenakan hingga menutupi leher.

“Memang aku harus menjawab apa?” Aku langsung mengalihkan pandanganku begitu menyadari aku menatapnya terlalu lama. Beralih untuk mengambil ponselku dan mengecek apakah ada pemberitahuan bahwa rapat akan segera dimulai atau dibatalkan karena masih saja ada yang belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran.

Aku merasakan ia melipat kakinya dan mengubah posisi duduknya untuk menghadapku. “Kau yakin tidak ada yang ingin diceritakan?” sepertinya ia merasa begitu tidak yakin dengan jawabanku.

Ada, banyak sekali,’ batinku. ‘Tentang bagaimana aku melalui setengah tahun yang begitu aneh karena aku merindukanmu, atau satu bulan berikutnya aku merasa bimbang apakah perlu untuk melanjutkan perasaanku padamu, dan lima bulan terakhir yang kujadikan sebagai perjalanan waktu untuk melupakanmu. Namun sekarang kau duduk di sebelahku seolah melupakan banyak kejadian antara kau dan aku pada satu tahun yang lalu’ aku menatapnya dengan dingin, “Tidak ada.”

Ia terperangah mendengar jawabanku, tampaknya terkejut dengan sikapku padanya yang sangat berubah. Biasanya aku selalu tertawa hingga tidak tahu diri, membicarakan apa saja, atau bertanya tentang apa saja padanya. Tidak. Kali ini aku tidak ingin terlihat antusias ketika bersamanya sebab sudah saatnya untuk menghentikan perasaan yang tidak akan pernah terbalas ini.

“Begitu ya…” ia menggantungkan ucapannya. Tangannya bergerak memilin tali jaketnya sekaligus membiarkan hening menguasai kami.

Aku merasa jengah dengan situasi ini, ingin rasanya bangkit dan meninggalkannya namun kupikir itu adalah suatu hal yang jahat jika dilakukan. Di sisi lain ada sudut kecil yang memintaku untuk jangan beranjak, jadi yang kulakukan adalah mengambil earphone hitam yang selalu ku bawa kemana-mana dan memasangnya di telingaku –menyumbat indra pendengaranku dengan beberapa lagu sendu yang mendukung suasana.

“Selama satu tahun ini aku berpikir banyak.” ia membuka percakapan lagi. Terdengar seperti gumaman kepada dirinya sendiri tapi aku mendengar apa yang ia ucapkan meski dengan volume pelan. “Rasanya saat terakhir kali pertemuan kita ada sesuatu yang belum tuntas”

Aku membeku mendengar ucapannya. Tentu saja aku tahu apa yang ia maksud dalam ucapannya. Pertemuan terakhir kami seperti anti-klimaks dalam sebuah novel, ia menjauhiku setelah beberapa kenangan manis diantara kami terukir, setelah kami berdua saling bercerita betapa hancurnya perasaan kami karena keluarga, setelah beberapa tangis yang kulalui dengan ia yang berada di sampingku. Menjauhiku setelah pengakuan mengejutkan yang ia beritahu sebelum ia beranjak pergi menjauhiku.

“Aku tidak bisa melanjutkan ini,” katanya saat itu.

“Kita bahkan tidak memulai apa-apa,” jawabku. Tentu saja kami masih hanya sebatas seorang teman, tidak ada lebih dari itu.

“Ada satu lain hal yang membuatku selalu melakukan tindakan di luar kendaliku saat bersamamu. Aku bahkan tidak pernah melakukannya sebelumnya.” yang ia maksud adalah menemaniku menangis di malam sebelum kepulanganku ke Jakarta dan menggenggam tanganku dengan erat saat kedinginan menyapa di malam acara kampus.

“Aku paham.” tidak, sebenarnya aku sama sekali tidak paham atas situasi ini.

“Jika ingin bercerita, kau bisa bercerita masalahmu pada Fafa dan Tia. Mereka sahabatmu kan?” ia menyebutkan dua teman dekatku.

Seharusnya ia ingat alasanku tidak pernah bercerita kepada dua teman dekatku, aku ingin membantah tapi yang kulakukan adalah “Ya, terimakasih”

Dan berakhirlah kami seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

“Jika dipikir-pikir aku keterlaluan ya?” perkataannya membuatku tersadar dari lamunan memori masa lalu yang menerpa bak banjir bandang di kepalaku. Aku masih kukuh dengan menatap pemandangan di hadapanku dengan earphone yang menyumbat telingaku.

“Aku sudah memperlakukanmu dengan sebegitu berbedanya, namun dengan tidak ada otak aku meningalkanmu di sana.” ia terkekeh kecil setelahnya, ia tetap melanjutkan ucapannya meski mungkin saja ia menyadari aku tampak tidak mendengarkannya. “Tidak, aku tidak hanya memperlakukanmu dengan berbeda. Kau memang berbeda saat itu dimataku, dan hingga sekarang posisimu pun tetap sama. Kau rupanya sulit dilupakan olehku.”

Demi Tuhan, aku terkejut mendengarnya hingga tanpa sadar aku menoleh padanya dan berbicara, “Apa maksudmu?” dan kulihat ia terkejut bukan main karena ternyata aku mendengarkan semua ucapannya.

Ia berhasil menguasai dirinya kembali, menjadi tenang seperti bisanya. “Aku ingin meminta maaf padamu, atas segala hal yang membuatmu jatuh padaku hingga sebegitu dalamnya…”

“Kau, siapa yang memberi tahumu perihal perasaanku?” dengan cepat aku memotong ucapannya, karena tidak ada siapapun yang tahu mengenai perasaanku padanya kecuali teman dekatku.

“Tania, beberapa bulan yang lalu ia menceritakannya padaku.” Aku menghela napas, aku lupa kalau teman dekatku itu berada di satu organisasi yang sama dengannya.

Ia memandangku lekat-lekat sedikit memperpendek jaraknya denganku, ia tersenyum –tidak tipis seperti yang biasa ia lakukan. “Maafkan aku telah begitu jahat padamu, setelah begitu lama aku berpikir…”

“RAPAT BATAL, KETUA SAMA BENDAHARA ENGGA BISA HADIR!” lagi-lagi ucapannya terpotong, kali ini oleh salah satu temanku yang memberitahu rapat tidak jelas ini dibatalkan, dibarengi oleh keluhan keras dari yang lainnya.

Ia mendelik pada sumber suara itu kemudian kembali berfokus padaku. Aku tetap terpaku menatapnya, masih menanti kelanjutan ucapannya. “Sampai mana tadi, ah sampai aku berpikir mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk menuntaskan segalanya. Aku menyayangimu, sejak kita mulai bertemu saat acara angkatan.”

Ia menyelesaikan ucapannya dan aku terkejut bukan main. Tidak, aku terkejut bukan karena akhirnya perasaanku terbalas. Ada hal lain. “Maaf, aku…”

“Hei aku dengar rapatmu batal? Ayo cari makan.” Sepasang lengan yang kekar memeluk leherku dari belakang. Aroma maskulin menguar dari sana, membuatku semakin terkejut dengan situasi yang membingungkan ini. “Oh, sedang ada urusan?” lanjut suara itu begitu melihatku sedang terlibat pada pembicaraan serius.

“Tidak,” jawabku sambil menolehkan kepalaku untuk menghirup aroma kemejanya yang masih tetap harum meski ia tidak menggantinya sejak kelas pagi tadi. Lalu teringat ada sosok lain yang memandang kami dengan tatapan kosong.

“Rey, kenalkan ini…” aku ragu untuk melanjutkan ucapanku untuk memperkenalkan laki-laki yang masih asyik memeluk leherku. “Namanya Baskara, ngga satu fakultas. Dia dari hukum.”

Baskara tersenyum lalu melepaskan rengkuhannya dan menjulurkan tangannya pada laki-laki di depanku itu. “Halo, gue Baskara. Pacarnya dia.”  kekehnya sambil menahan sakit akibat cubitanku.

Rey masih terlihat terkejut, namun tetap menerima sambutan tangan Baskara. “Rey, teman satu jurusannya.”

Aku langsung meraih tangan Baskara untuk langsung beranjak, sekaligus menyelamatkan diri dari situasi ini. Sebelum benar-benar pergi aku sedikit mengucapkan sesuatu padanya. “Maaf, kau terlalu terlambat.”

Lalu aku benar-benar meninggalkannya.

Diterbitkan oleh maladafii

Rasanya rancu bukan, melihat tulisan tulisan yang bertolak belakang dengan kepibradian?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai