Hidup bagi banyak manusia diibaratkan seperti perputaran roda, di suatu masa akan berada di atas –yang berarti berada di masa jaya, lalu di suatu masa kemudian akan bergulir menuju bawah –bisa diartikan kita akan tiba di masa kejatuhan atau kelam. Namun, apa jadinya jika sebenarnya hidup itu diibaratkan seperti terjebak di dalam labirin yang tidak memiliki jalan keluar namun memiliki banyak pintu dan sangat luas? Setiap pintu yang dibuka memiliki ceritera tersendiri yang hendak disampaikan.
Kalimat itu secara mendadak muncul di kepala saya ketika saya sedang berada di fase sangat lelah dengan keadaan –kuliah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh, tugas perkuliahan yang semakin tidak manusiawi, keadaan rumah yang sedikit kondusif, dan tekanan luar biasa lainnya yang sepertinya sengaja hadir di waktu yang tepat ini. Perkenalkan, saya Malahayati Damayanti Firdaus, nama yang cukup panjang ini bisa dengan mudah disingkat dengan panggilan Mala saja. Esai ini saya tulis berfokus pada bagaimana keadaan saya selama pandemi yang datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan bagaimana saya berusaha agar matahari tetap bersinar dalam diri saya meski berada di keadaan yang sesungguhnya sangat membingungkan ini.
Awal Maret tahun 2020 bagi saya adalah titik balik perubahan yang sungguh mengejutkan bagi saya. Saya yang sedang berada di keadaan yang sungguh senang karena memulai awal semester dengan sangat indah di kota perantauan, menjelajahi tempat yang belum pernah saya kunjungi, tidak tidur beberapa malam karena bersenda gurau bersama teman di kamar indekos, atau menangis bersama karena tugas yang tidak kunjung selesai padahal tanggal pengumpulan hanya tersisa beberapa jam saja di depan mata. Saya dipukul mundur oleh kabar berupa serangan pandemi luar biasa yang menerjang nyaris seluruh permukaan planet, terpaksa kembali ke rumah, menjalani perkuliahan sendiri, mengerjakan tugas sendiri, menangis sendiri, dan segalanya yang seharusnya bisa saya lakukan bersama teman wajib saya lakukan sendiri.
Maret berganti April, April berganti Mei, dan begitu seterusnya hingga bak satu kedipan mata, penghujung tahun sudah begitu dekat hingga bisa diraih dalam satu langkah. Selama waktu-waktu berjalan saya mengalami banyak peristiwa yang ternyata tidak seluruhnya buruk. Seperti kalimat yang selalu saya genggam sebagai prinsip “hidup tidak selalu hitam kelam, namun tidak sepenuhnya putih jernih” atau terkadang pula seperti warna abu-abu, kita tidak tahu apakah suatu peristiwa itu baik atau buruk.
Saya mengalami masa-masa kelam ketika saya harus memaksakan diri saya untuk kuat dalam keadaan dimana saya harus menuntaskan segala tugas perkuliahan yang sungguh banyaknya, namun kedua orangtua saya tetap menuntut untuk menuntaskan seluruh pekerjaan rumah di saat saya sedang berada dalam periode waktu untuk kelas daring, saya wajib melakukan keduanya atau saya nantinya akan dikatakan sebagai anak pemalas oleh mereka. Saya juga harus berusaha mematikan rasa insecure atau rendah diri saya yang nyaris setiap hari hadir begitu melihat seluruh teman-teman dekat saya berada dalam keadaan sungguh produktif sedangkan saya tidak bisa melakukan apa-apa dikarenakan saya tidak berani ambil risiko untuk mengambil banyak kegiatan selain kegiatan akademik karena orangtua saya cukup menentang ketika saya ingin mengambil kegiatan yang sesuai minat saya, yaitu dunia sastra dan kepenulisan. Saya juga harus menahan tangisan setiap malam karena rasa lelah yang semakin lama semakin menggerus bagian dalam diri saya sendiri, tidak terpikirkan bagi saya untuk bercerita pada kedua orangtua saya sebab cukup trauma dengan masa lalu saat saya menceritakan saya begitu lelah secara mental, mereka memilih untuk mengatakan saya sebagai anak yang lemah lalu membandingkan dengan masalah yang mereka alami. Mala di masa lalu itu sebenarnya paham masalah kedua orangtuanya memang lebih banyak, namun apakah salah bagi seorang anak ingin bercerita tentang bagaimana kejamnya dunia lalu mengharap atas penenangan dari orang yang seharusnya menjadi ‘rumah’ baginya?
Orangtua tidak mampu menjadi ‘rumah’ bagi si Mala, lalu bagaimana dengan teman dekatnya? Tidak mudah bagi saya untuk menceritakan masalah diri ini ketika saya sudah mengetahui dengan sangat jelas bahwa permasalahan teman saya jauh lebih berat dibandingkan saya –ini berdasarkan penilaian pribadi diri saya tentu saja. Pada akhirnya saya memilih untuk memendam segalanya sendiri yang tenyata berakibat fatal pada diri saya. Saya merasa diri saya semakin hina dan tidak bermakna. Saya membenci diri saya sendiri. Ya, seorang Mala yang sejak awal sudah membenci dirinya sendiri makin terperosok ke dalam jurang kebencian terhadap dirinya. Saya berkawan baik dengan gelap dan hampa, sulit mengungkapkan bagaimana perasaan yang berkecamuk di dalam tubuh sampai timbul rasa sesak yang tidak pernah saya rasakan di waktu lampau. Saya merasa gusar dengan sesak yang tidak pernah saya kenal, saya merasa terlalu sakit namun dimana letak kesakitannya tidak pernah saya ketahui. Lalu entah bagaimana caranya, secara tidak sadar tangan ini meraih gunting yang memang tergeletak di atas meja belajar. Untuk pertama kalinya dalam nyaris dua puluh tahun kehidupan remaja bernama Mala, ia berkenalan baik dengan ‘melukai diri sendiri’ dan terus erat hingga sekarang.
Masa-masa tersebut bagaikan badai yang tidak kunjung berakhir, dimana rasa sesak yang menyusahkan itu menyapa, maka gunting hitam kecil itu akan menyambut menghasilkan karya besar di pergelangan tangan yang semula tidak pernah ada apa-apa disana. Saya menjadi sosok yang menutup diri dari semua keadaan dan selalu berekspresi datar –saya mulai sulit membedakan apakah saya merasakan kesenangan karena yang saya tahu dimana kesenangan datang menghampiri, kesedihan tak berujung pasti akan menyusul. Saya mulai tidak peduli dengan keadaan tubuh maupun mental saya karena yang saat itu bersarang di kepala saya adalah ‘jika orang lain saja tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan diri saya, untuk apa saya ikut peduli?’dan beberapa saat kemudian saya menyadari betapa rendahnya pemikiran tersebut.
Matahari dalam diri Mala mulai menampakkan sinarnya disaat perayaan hari kesehatan mental pada tanggal 10 Oktober. Saya dengan rasa ingin tahu yang cukup besar memberanikan diri untuk mengikuti seminar yang membahas tentang “Luka di Masa Lalu”. Selama saya mengikuti acara tersebut, sisi hati kecil saya yang terlampau keras ini mendadak melunak begitu mendengar ucapan narasumber yang masih segar berada di otak saya. Narasumbernya adalah seorang penyanyi yang saat ini sedang terkenal yaitu Baskara Putra atau sering disebut dengan Hindia. Beliau berkata “Kalau bukan dari diri sendiri yang berusaha untuk menyembuhkan luka yang memang hanya kita yang tahu, siapa lagi yang bisa diandalkan?”
Saya tertampar begitu kerasnya hingga rasanya kepala begitu pening, pening memikiran tentang bagaimana bodohnya saya membiarkan badai menerjang kehidupan saya begitu lama. Saya terlalu sibuk meyalahkan keadaan yang menyelimuti saya hingga tanpa sadar saya sedang membesarkan sebuah ego untuk membenci diri saya sendiri. Seolah-olah saya sedang membunuh secara perlahan tubuh serta jiwa ini. Saya terlalu memerhatikan berapa banyak kelam yang saya alami hingga lupa mungkin ada cerah yang menyapa saya namun saya abaikan dan saya hempaskan jauh-jauh. Begitu memprihatinkan diri saya, namun saya tidak ingin jatuh kembali ke dalam jurang yang sama atau justru terjatuh ke jurang yang jauh lebih dalam dan tidak tahu kapan akan menemukan ujungnya.
Tanpa harus berpikir panjang, saya mencoba untuk menanam kembali diri saya. Menjadi pribadi yang mulai menerima serta mencintai diri saya sendiri. Karena saya pun tahu pada akhirnya saya tidak dapat kembali ke waktu lampau dimana saya dapat mengubah segalanya, saya tidak dapat berdoa kepada Tuhan agar memundurkan waktu agar saya tidak perlu lagi menunjuk keadaan sebagai biang kegundah gulanaan saya dan saya tidak mau menjadi orang yang begitu memprihatinkan lagi. Perlahan tapi pasti saya bangkit, meski rasanya sangat sulit. Dengan bantuan konselor online saya mencari tahu apa yang bisa saya lakukan untuk menolong diri saya yang nyaris sekarat. Mulai membangun kembali kebiasaan membaca yang sempat hilang, membuat daftar hal-hal apa saja yang harus dilakukan jika masa gelap itu kembali datang, dan konsultasi secara rutin ke konselor. Saya bahkan mulai menantang diri saya untuk mendaftar berbagai kegiatan di luar akademik sebagai bentuk perlawanan diri sekaligus memberikan diri saya apa yang saya sukai, saya mendaftarkan diri ke dalam komunitas anti perundungan, mendaftar sebagai panitia orientasi mahasiswa baru, dan kegiatan lainnya. Di suatu kesempatan saya mencoba mencurahkan perasaan saya dalam bentuk cerita singkat maupun puisi yang ternyata berhasil menyingkirkan perasaan sesak dalam diri. Namun segalanya memang tidak berjalan dengan sangat mudah, kecanduan saya terhadap melukai diri sendiri masih cukup sulit untuk dilenyapkan tapi bukan berarti saya akan menyerah begitu saja. Saya mencari distraksi dengan mencoret tinta merah di atas pergelangan tangan, yang cukup membuahkan hasil. Saya kali ini enggan untuk menyerah bertarung dengan badai yang ingin berkenalan kembali.
Seperti Bumi yang selalu mengitari matahari, yang menandakan bahwa matahari tidak pernah pergi meninggalkan melainkan tetap berdiam menunggu Bumi terus mencarinya. Matahari dalam dalam diri saya pun sebenarnya tetap ada, namun pada saat itu saya malah berlari menuju lubang hitam yang penuh dengan pengharapan yang tidak baik. Matahari tidak pernah berhenti bersinar meski siang dan malam selalu hadir, sama seperti harapan akan masa yang lebih baik akan selalu hadir meski keadaan selalu berganti antara baik atau buruk.
Lalu kehidupan juga berjalan seperti kita terjebak di dalam labirin yang luas dan memiliki banyak pintu disana, kita tidak akan tahu bagaimana isi di dalam masing-masing pintu. Yang pasti, setiap mengunjungi satu pintu pasti terdapat hal yang bisa dijadikan pembelajaran untuk berhati-hati dalam membuka pintu-pintu lainnya. Ini merupakan pembelajaran penting bagi saya. Apapun yang telah saya lewati di belakang, saya tidak perlu susah payah untuk menyalahkannya atau memohon hiteris agar saya bisa dikembalikan ke masa itu. Saya hanya perlu tersenyum dan menanamkan dengan baik bagaimana di depan saya akan mengambil langkah yang bijak dan baik namun tidak mengabaikan keinginan diri sendiri.
Kurang lebih lima puluh lima hari lagi saya akan berpijak pada tahun yang lain, tahun yang mungkin hanya berganti angka saja namun siapa yang tahu ada cerita apa disana? Tidak ingin muluk-muluk tentang pengharapan apa yang saya panjatkan ke sang penguasa langit dan seluruh isinya, saya hanya meminta semoga di tahun besok, dua tahun, atau berbelas-belas tahun yang akan menghampiri nanti saya selalu diberikan keteguhan dan kedamaian dari dalam hati agar saya bisa terus mencintai dan menerima diri saya sendiri apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaan menghampiri saya. Yang saya inginkan pula adalah, saya harus tetap mengejar cahaya matahari untuk diri saya meskipun harus melewati badai besar yang menghadang. Mungkin ada saat dimana cahaya tersebut akan meredup, namun saya akan berjanji untuk tetap memeluk diri saya apapun yang akan terjadi dan berlari meraih mentari yang saya yakin, ia selalu hadir untuk seorang Mala.