Letting Go

!!! TRIGGER WARNING: SUICIDE, DEPRESSION, DEATH!!!

Note: Disarankan sambil mendengarkan lagu “Letting Go Rebooted Ver”nya Day6, biar lebih ngena ke ceritanya.

“Sheil? Kamu engga mau makan apa-apa?”

Hanya ada gerakkan kepala di bahuku sebagai jawabannya. Sebuah gelengan.

Aku menghela napas pelan, memandang hiruk pikuk jalanan Jakarta yang selalu ramai –terlebih ini Sabtu malam. Namun baru kali ini aku merasa segala sesuatu terasa begitu damai, entah suara klakson kendaraan mobil yang bersahut-sahutan di bawah sana, atau kerlap-kerlip lampu dari para gedung pencakar langit di sekitarku yang terlihat menyenangkan untuk dilihat, atau bisa jadi karena aku hanya duduk diam dan memandangi segalanya sehingga semuanya seperti berjalan dengan begitu elegan –akan berbeda cerita kalau aku terjebak macet di jalan saat ini, yang terjadi adalah tekanan darahku akan meninggi dan sakit kepalaku akan mendadak muncul seperti biasanya.

Seharusnya Sabtu malam ini kuhabiskan di balik meja kerjaku, mengerjakan seluruh laporan perjalanan dinasku pada tiga hari sebelumnya sehingga esok aku bisa memperpanjang waktu lelapku yang sudah tersita habis karena pekerjaan. Namun yang kulakukan saat ini malah duduk di sebuah sofa panjang yang terletak di balkon apartemen perempuan yang sejak satu jam yang lalu hanya bersandar di bahuku, ditemani dengan segelas red velvet latte untuknya dan caffe latte milikku yang panasnya sudah menguap karena terlalu lama dibiarkan di ruang terbuka.

“Ro, kamu udah di Jakarta?”

Aku yang memang baru saja meletakkan koperku di pojok kamar agak terkejut ketika menerima panggilan telepon dari Nanda, kakak laki-lakinya. Tidak, sejujurnya aku lebih terkejut karena penggunaan kata ‘aku-kamu’ yang digunakan Nanda. Seingatku Nanda hanya menggunakan kata itu ketika berada di situasi yang serius.

“Iya, baru banget di rumah. Kenapa, bang?” jawabku, di dalam kepala aku sedang menerka-nerka apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh lawan bicaraku.

“Bisa ke tempat Sheila engga? Gatau kenapa dia susah banget dihubungin, terakhir cuma bales chat bilang ‘gapapa’ gitu. Aku lagi di Palembang dan besok ada meeting bareng klien.”

Dan tidak butuh lebih dari tiga puluh menit aku sudah berdiri di dalam ruang apartemennya, tetap rapi seperti biasanya. Hanya ada satu kotak makanan cepat saji yang terbuka di meja dapurnya, tersisa separuh ayam goreng. Aku meneliti setiap ruangan yang ada di sekitarku, tidak ada sosok Sheila. Langkah kakiku terbawa menuju balkon dan benar saja, ia sedang duduk dengan memeluk lututnya menatap kosong pemandangan di hadapannya.

Aku melirik ke arah jam yang terpatri di dalam, pukul 11 lewat 15 malam. Sejujurnya aku sudah sangat mengantuk, selama perjalanan kembali dari Surabaya aku tidak tidur karena menyicil laporan di laptop. Padahal perjalanan 12 jam menggunakan kereta itu seharusnya aku manfaatkan saja untuk memejamkan mata walaupun hanya tiga jam saja. Tapi perempuan di sebelahku ini tidak ada tanda-tanda untuk bangkit masuk ke dalam. Dan aku harus mati-matian menahan agar aku tidak menguap.

“Ada monster besar di dalam kepalaku, Ro.” Setelah hening sekian lama, suara Sheila terdengar. Terdengar serak dan parau. Aku memilih untuk diam, dalam hati berharap ia melanjutkan ceritanya.

Tuhan menjawab doaku, ia kembali berbicara. “Monsternya besar sekali, kapanpun ia selalu berada di hadapanku. Gelap sekali, ia seperti menutupi semua cahaya yang ingin masuk ke dalam mataku.”

Ia bercerita dengan tatapan yang kosong, tidak seperti Sheila yang biasanya yang selalu ceria dan penuh perhatian terhadap segala sesuatu. Sheila yang saat ini bersamaku benar-benar bukan seperti Sheila yang sudah berkawan denganku selama delapan tahun lamanya. Dan aku merasa sangat bersalah karena tidak berada di sisinya selama masa-masa sulitnya.

Sepertinya Tuhan menyampaikan monolog di dalam kepalaku kepadanya, karena tiba-tiba ia berujar, “Bukan salah kamu, Ro. Monsternya memang sudah lama datang tapi aku tidak pernah bercerita pada siapapun kalau ia sudah membersamaiku.”

“Kenapa kamu milih buat engga cerita Shei?” kali ini akhirnya aku mencoba bertanya, dengan suara yang kuusahakan selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaannya.

Aku melihatnya sekilas kalau ia tersenyum kecil. “Aku tidak ingin menjadi beban kalian semua. Ayah dan Ibu sudah cukup untuk menanggung biaya ku dan Nanda serta segalanya sampai kami kini punya penghasilan dan kehidupan masing-masing. Sudah saatnya mereka istirahat dan menikmati segalanya berdua. Nanda? Kupikir berkata bahwa aku baik-baik saja sudah cukup membuat Nanda tenang menjalani pekerjaannya. Ia sudah cukup pusing mengerjakan disertasi dan pekerjaannya, jangan sampai aku malah ikut-ikutan membuatnya semakin mumet.”

“Kau lupa ada seorang Jevaro Yanuar di kehidupan Sheila Nandira.” Protesku.

Ia mencubit lenganku pelan, yang membuatku terkikik pelan. “Jevaroku sedang sibuk, ia sedang mempersiapkan diri untuk promosi jabatannya. Apalagi akhir bulan nanti dia mau wisuda gelar masternya, apa tidak kasihan aku melihat kantung matanya yang mungkin saja bisa menyimpan baju di dalam sana.” Ia menyindirku dan sialnya itu benar semua. Aku selalu menceritakan segalanya pada Sheila.

Dan baru kusadari, Sheila yang sebenarnya butuh seorang pendengar memilih untuk tidak berbicara karena ia tahu banyak yang membutuhkannya sebagai pendengar.

“Lalu sekarang akhirnya kamu mau bercerita, terima kasih.” Aku menggenggam sebelah tangannya yang sejak tadi memainkan jari-jariku. Dingin.

Sheila mengelus ibu jariku yang menggenggam tangannya. Sungguh, ia terasa begitu ringkih saat ini. Aku memilih untuk tidak bicara banyak karena kupikir sudah saatnya diriku menjadi pendengar untuknya, aku hanya perlu menunggu ia bercerita apapun yang ingin ia ceritakan.

“Kupikir tiga puluh tahun sudah cukup.”

Aku tahu akan mengarah kemana pembicaraan ini. Dadaku kini mulai merasakan sesak, tapi aku akan terus mendengarkan. Aku tidak ingin ia berhenti berbicara dan menghindariku karena aku langsung gegabah menyerbunya dengan berbagai kalimat. “Mengapa begitu?” hanya itu yang akhirnya berani kuucapkan.

Sheila mengangkat kepalanya dan mengubah posisinya menghadapku, yang kuikuti juga sehingga kami berdua saling berhadapan. Jujur aku menyesal dengan situasi saat ini, karena yang kulihat adalah sinar matanya yang meredup. Ia tampak biasa saja sekilas, namun jika diperhatikan kembali dengan seksama, ia sudah tidak memiliki pancaran semangat dari kedua bola matanya.

“Aku sudah mencapai semua tujuanku, mendapatkan penghasilan dan membahagiakan orang tuaku, melihat Nanda mencapai keiinginannya –yah aku tahu seharusnya aku melihat Nanda menikah, tapi sepertinya ia tidak akan menikah mengingat ia terlalu ambisius dengan pekerjaannya. Dan mengetahui bahwa aku memilikimu sebagai satu-satunya teaman terdekatku dan kini kau sudah mencapai segala mimpimu. Kurasa itu sudah lebih dari cukup.”

“Dan yah, monster ini. Aku sudah lelah bertarung dengan monster aneh ini, tampaknya ia tidak mau mengalah. Jadi aku saja yang mengalah. Kau tahu kan aku sangat benci konflik?” ia tertawa, namun dari matanya sudah berlinangan air mata.

Tanpa menunggu persetujuannya, aku menariknya ke dalam pelukanku. Aku memeluknya sangat erat, namun memastikan ia tidak akan sesak. Aku melakukannya karena tidak ingin Sheila melihatku menangis, cukup ia yang sedang merasa tidak kuat, aku tidak ingin memperlihatkan bahwa diriku sedang lemah juga di hadapannya. Saat ini aku ingin Sheila-ku bergantung padaku.

Ia menangis sesenggukkan di ceruk leherku, tangannya memegang erat lengan hoodie hitam yang sedang kukenakan. Tanganku mengelus helaian rambut hitamnya. Membiarkannya tetap menangis dalam pelukanku.

I keep thinking in my head

Should I say this or not

“Shei,” aku memanggil namanya. Jelas terdengar kalau suaraku sangat bergetar karena aku menahan tangisku.

Although I don’t want to

I’d been holding on to you for so long

“Jika suatu hari nanti, Tuhan ngasih izin ke kamu maupun aku untuk bertemu lagi di kehidupan selanjutnya…” suaraku terputus karena tersedak oleh tangisanku sendiri. Posisi kami tidak berubah, pelukanku tetap erat dengan tangan Sheila yang masih menggenggam erat lengan hoodie ku.

“…aku mau kamu bergantung ke aku ya? Jangan merasa kamu beban ketika kamu ingin bercerita. Entah hari kamu lagi baik atau sebaliknya. I want to be a part in your best day or even your worst, ok?” Hanya kalimat itu yang kuucapkan dan tangis ku pecah. Aku mengeratkan pelukanku padanya. Berharap Sheila memahami makna sebenarnya dari yang kuucapkan.

Ia mengangguk dalam pelukanku. Kini tangannya bergerak mengelus lenganku, berusaha menenangkan. Padahal seharusnya akulah yang hadir untuk menenangkannya. Sheila ku memang hadir untuk menenangkan temannya yang seperti bayi besar ini.

But now I must let go

There’s nothing I can do for you

It’s the only way to make you happy

“Ro, aku berterima kasih pada Tuhan karena udah mempertemukan aku dengan kamu. You’ll be my forever Jevaro Yanuar, no matter what. Thank you so much.

Holding on to you

Will do you no good

I know, so I struggle to get you out

“Selamat beristirahat dengan tenang, Sheila Nandira.”

So I let go

Let go

Let go

Aku berbaring di kasurku. Setelah Sheila tertidur dalam pelukanku, aku memindahkannya ke dalam kamarnya. Setelah memastikan ia tidak terbangun, aku membereskan apartemennya hingga bersih dan pulang menuju rumahku. Dalam perjalanan aku mengabari Nanda bahwa adiknya telah tertidur pulas –aku tidak menceritakan apa yang terjadi saat pertemuan kami di balkon, karena kupikir Sheila akan menjelaskannya sendiri dengan caranya. Nanda berterima kasih dan berkata meeting dengan kliennya dibatalkan, esok siang ia akan tiba di Jakarta.

Lama sekali aku menatap langit-langit kamarku, mencoba mengingat-ingat kembali memori indahku bersama Sheila. Pada pertemuan pertama kali di sebuah seminar di acara kampus, obrolan pertama kami di sebuah warung kopi setelah pulang perkuliahan, perjalanan pertama kami menjelajahi perbatasan untuk sebuah kegiatan kemanusiaan, dan banyak lagi sampai tidak terasa aku tertidur dengan memeluk bingkai foto yang berisi gambar kami berdua saat berada di Papua.

Aku harap aku tidak pernah menyesali segala keputusanku atas Sheila.

Esok harinya aku terbangun di siang hari karena handphoneku tidak berhenti bergetar, 50 panggilan tidak terjawab dari Nanda.

Dan sebuah pesan masuk dari Nanda pula.

Ro, Sheila pergi. Ninggalin kita semua. Dia overdosis obat tidur.

Sekali lagi, aku harap aku tidak pernah menyesali segala keputusanku atas Sheila.

The times we had together, our dear memories

I let go, let go, let go

So you can smile someday.

Halo, terima kasih sudah membaca cerita pendek ini hingga selesai. Ini mendadak banget ditulis karena, ya sejujurnya yang dialami Sheila itu kurang lebih sedang kualami saat ini. Jadi cerita ini merupakan pelampiasan karena aku sulit bercerita mengenai apa yang terjadi padaku. Maaf ya agak aneh, semoga suka. Dan jangan lupa hubungi orang terdekat kalian ketika kalian membutuhkan tempat untuk cerita. Semoga hari-hari kalian akan selalu baik <3.

Diterbitkan oleh maladafii

Rasanya rancu bukan, melihat tulisan tulisan yang bertolak belakang dengan kepibradian?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai