“Gimana, enak kan tempe mendoannya?” Tangannya bergerak membersihkan percikan sambal kecap yang menetes sedikit di pergelangan tanganku.
Tempe mendoan memang terlampau enak untuk dikonsumsi ketika cuaca malam yang dingin akibat hujan seharian, terutama saat masih panas mengepul.
“Itu lho sambal kecapnya nanti nyiprat ke baju kamu.” Ia masih berusaha mengingatkanku untuk berhati-hati dengan cipratan sambal yang akan menodai kemeja putih yang sedang kukenakan.
Tapi aku (berusaha) tidak mendengarkan. Mata, mulut, jari, dan seluruh pikiranku hanya berpusat pada daun pisang yang dijadikan alas makanan tradisional ini.
Selanjutnya hening.
Ia memilih diam.
Pun aku sudah diam sejak awal.
Namun waktu, cuaca, dan semua hal tidak akan pernah diam. Mereka terus maju, tanpa mau tahu kalau terselip keinginan diantara dua manusia untuk saling menunda sendu .
Tempe mendoannya sudah habis ku tandaskan, menyisakan pandangan tidak saling beradu karena memilih menyimak buliran air hujan di kaca, berlomba menebak dalam hati siapa yang akan lebih dulu mengeluarkan ekskresi dari pita suara masing-masing.
“Masih laper? Mau apa? Sate usus?”
Ternyata ia duluan.
“Enggak, aku kenyang.”
Genap 30 menit aku diam, syukurlah pita suaraku masih bisa berfungsi.
“Teh panas? Kayanya enak banget.”
“Enggak usah, di luar masih hujan. Nanti mobil kamu dalemnya basah.”
“Kan aku yang keluar.”
“Tetep aja nanti kamu misuh sendiri.”
“Hehe apal banget kamu.”
Ia terkekeh kecil, sangat manis.
Tanpa sadar aku ikut tersenyum, “Iya, kan satu tahun aku kenal kamu.”
“Sumpah? Ternyata udah lumayan lama ya. Kayanya baru kemarin ngucapin nama satu sama lain.”
“Iya, cukup lama buat ngenalin kamu dan segala kebiasaan kamu.”
Ia diam, tahu akan kemana arah pembicaraan ini.
“Dan sangat sulit untuk ngelupainnya.”
Barusan aku yang melanjutkan.
“Please, don’t.”
Dia menggunakan Bahasa Inggris, caranya menyembunyikan kedukaannya. Namun bagiku itu tidak berhasil.
“I can’t.”
“But you said I’m your safe place.”
“Tapi bukan berarti aku harus ngejebak kamu selamanya di dalam gelapnya aku.”
“And you’re my safe space.”
Ia tidak mau mendengarkan penjelasanku, lebih tepatnya mengelak.
“Kita udah diskusiin ini dua jam yang lalu kan?”
“Our ending?”
“Kita bahkan belum sempat memulai apa-apa.”
Miris, tapi itu benar adanya.
Ia menegakkan posisi duduknya, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
“I never. Will never. Agree with our separation.”
Aku memilih diam (lagi).
Ia diam pula, membiarkan kembali hening menguasai dan mendamaikan intensitas panas di dalam kepalanya. Kontras dengan suhu dua puluh satu derajat di luar.
“Tapi, mau enggak mau aku harus setuju. Kita sama-sama belum siap.”
“Kita belum pernah berusaha untuk healing sepenuhnya.”
“Maaf, aku kayanya egois ya?”
Tiga kalimat tadi adalah ia yang berbicara dengan dirinya sendiri.
“Hei.”
Suara pelan itu masih dari mulutnya.
“Ya?”
Suaraku tenang, tapi tidak dengan ruang yang bersiap kosong di dalam sana.
“Can I say something?”
Aku tidak pernah siap mendengarkan.
Tidak ingin.
Dan tidak akan pernah ingin.
“Go ahead.”
Dasar tukang denial. Aku.
“If someday we meet again, when all the hurts become healed. Will you run to me again? Or can I run to hold you back?”
Haruskah aku menjawab pertanyaan retoris itu?
“Ya, aku juga enggak bisa kemana-mana.”
Satu.
“Buntunya di kamu.”
Dua.
“And I never want to begin a journey again with someone else. Just you.”
Tiga.
Tiga kalimat dari mulutku, melegakan sekaligus menyakitkan.
“Glad to hear that.”
Ia benar-benar lega.
“Sana masuk, udah larut. Langsung tidur. Jangan makan mi instan terus. Jangan telat makan. Kalau kamu butuh sesuatu,”
Jeda.
“Jangan sungkan untuk bilang ke aku.”
Aku mengangguk dengan senyum kecil.
Ia menarik pelan lengan bajuku.
Aku menoleh.
“Last hug?”
Aku meralat, menyerusukkan tubuhku ke dalam rengkuhan longgarnya.
“It isn’t the last. We just break.”
“Inget yang aku bilang, aku udah enggak bisa jadi reminder kamu lagi.
Aku mengangguk.
Aku usai.
Ia usai.
Kami usai.
Usai atas hal yang tidak pernah kami mulai.