Menjadi Tidak Baik-Baik Saja Adalah Hal yang Biasa Saja

Bagaimana rasanya jika nyaris seluruh usia hidupmu kini, selalu berada di dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan? Memiliki banyak masalah, namun tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menyelesaikan bahkan mengungkapkannya. Terlalu banyak ketakutan dan kecemasan dalam menerka ketika ingin mencoba terbuka. Yang pada akhirnya malah memilih untuk berdiam dan memakan semuanya sendirian dan bertindakLanjutkan membaca “Menjadi Tidak Baik-Baik Saja Adalah Hal yang Biasa Saja”

Segelas Teh dan Sejumput Lara

   “Teh hangat?”    Segelas teh yang tampaknya masih cukup panas –terlihat dari asap yang mengepul di atasnya diulurkan padaku. Aku menoleh, melihat siapa sosok yang memberikannya dan setelah melihatnya aku tersenyum kecil lalu mengambil gelas tersebut. Menggenggam gelas berwarna putih gading itu dengan kedua tanganku, menyalurkan panas dari gelas tersebut ke tanganku. “Terima kasih,”Lanjutkan membaca “Segelas Teh dan Sejumput Lara”

Starlight

“Salah tidak jika aku berharap suatu saat nanti, antara kau dan aku mengelilingi Jakarta, saling bergenggam tangan. Seolah hanya kau yang ada di mataku, lalu sebaliknya.” suaraku membelah keheningan yang sudah menyelimuti selama lebih dari lima menit.    Dia yang berdiri di sebelahku hanya terdiam, namun senyum tipisnya mengembang samar. Rambut hitamnya yang halus bergerakLanjutkan membaca “Starlight”

Pisah

menghitung bulan, jam, detik. riang tawa masih kental di udara. meski bayang pisah mulai menguak. kursi, meja, ubin. saksi bisu riang, sedih, lelah. sulit mengelak untuk bersiap. sebab sudah tak ingin bersama yang lain. namun begitu menggebu. bagaimana menuju dunia yang lebih tinggi. keringat, air mata, air kopi. memori mulai menyimpan banyak hal. yang limaLanjutkan membaca “Pisah”

Binara Benci

kecewaku tak pernah kau anggap hidup. lantas setelah itu diri bertanya, seberapa pantas untuk kembali percaya? untuk apa ada jika kecewa mengiring sembunyi. manusia semakin aneh, semakin tak tahu, semakin serampang. sebegitu seenaknya datang lalu membuang. mempermainkan hanya karena ingin. meladeni karena merasa tak enak. meninggalkan karena bosan. berperilaku hingar bingar guna lara tertutup. atauLanjutkan membaca “Binara Benci”

Perkenalan

Halo, sebenarnya sulit memperkenalkan blog ini lalu mengaitkannya padaku. Tapi mari dipermudah saja, blog ini adalah hasil isi kepalaku yang ruwetnya mengalahi hiruk-pikuknya kemacetan Jakarta pada Senin pagi. Isinya bisa sesingkat suka, namun kadang bisa sepanjang duka. Mayoritas ku isi dengan sajak puisi yang begitu abstrak, yang kadang aku sendiri lupa mengapa aku menuliskannya. TapiLanjutkan membaca “Perkenalan”

Berita Kematian

/1 Telah diumumkannya melalui pengeras suara di selatan; Perihal matinya tarian perayaan. Lalu pada bakti sore tadi  pun; Teriakan “ganyang upacara di utara!” terhimpun. Malam yang  jelaga meraung durjana; Lagi-lagi satu dua bahkan hingga berbelas belas budaya wafat; Pamit atas bendera putih yang terkibar dari peperangan melawan golongan kuasa. /2 Sang Ibu Pertiwi histeris mengiris;Lanjutkan membaca “Berita Kematian”

ONGENTITLED

Bagaimana rasanya jika bertemu seseorang yang paham dirimu meski kau tidak berkata apapun tentang dirimu? Menyenangkan bukan? Tidak, lebih tepatnya bahagia. Merasa lebih tenang sebab kau tahu ternyata tidak benar-benar sendirian. Merasa lebih lega karena ada tempat dimana dirimu sebenarnya lah yang hadir. Bukan topeng yang sering dipasang menunjukkan sisi ramah, humoris, banyak bicara, danLanjutkan membaca “ONGENTITLED”

Kembali Pada SMA

Kudengar banyak yang ingin kembali pada SMA Mengenang masa pertemanan yang tak akan melupa Riuh redam kisah kasih yang selalu terpatri di kepala Hingga temu pisah yang tak diduga . Namun ternyata diri enggan kembali Teringat pada kelam legam kenangan yang mengunci Pada seluruh malu yang hinggap menguliti Trauma dengan setia tanpa lelah mengikuti KehancuranLanjutkan membaca “Kembali Pada SMA”

Ucapan Penghujung Tahun

Semuanya mengucap terimakasih Pada tuan tuan mereka yang memberi kasih Atau pada puan puannya yang rela menyapih Lain kepala lain yang diberi lirih . Pandanganku berkeliling berpendar Tak menemukan yang pantas ‘tuk mendapat gelar Sebab semuanya bubar memencar Selalu sendiri hingga bergetar . Sang Agung memberi sinyal sunyi Membisik pada siapa mesti diberi Pada yangLanjutkan membaca “Ucapan Penghujung Tahun”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai