Andalan

Perkenalan

Halo, sebenarnya sulit memperkenalkan blog ini lalu mengaitkannya padaku. Tapi mari dipermudah saja, blog ini adalah hasil isi kepalaku yang ruwetnya mengalahi hiruk-pikuknya kemacetan Jakarta pada Senin pagi. Isinya bisa sesingkat suka, namun kadang bisa sepanjang duka.

Mayoritas ku isi dengan sajak puisi yang begitu abstrak, yang kadang aku sendiri lupa mengapa aku menuliskannya. Tapi sumpah, isi puisi itu adalah jujur. Sebab aku menjadi pribadi yang begitu jujur jika sudah menulis.

Beberapa ku isi dengan berbagai cerita yang ku alami, kubuat dengan memperhalus kalimatnya. Rasanya senang sekali, bagai mendongengkan diri sendiri. Terkadang aku menambahkan beberapa hal yang bisa kurekomendasikan padamu.

Hanya itu saja,

Semoga bahagia selalu setia menemanimu 🙂

Satu Paragraf.

“Gimana, enak kan tempe mendoannya?” Tangannya bergerak membersihkan percikan sambal kecap yang menetes sedikit di pergelangan tanganku.

Tempe mendoan memang terlampau enak untuk dikonsumsi ketika cuaca malam yang dingin akibat hujan seharian, terutama saat masih panas mengepul.

“Itu lho sambal kecapnya nanti nyiprat ke baju kamu.” Ia masih berusaha mengingatkanku untuk berhati-hati dengan cipratan sambal yang akan menodai kemeja putih yang sedang kukenakan.

Tapi aku (berusaha) tidak mendengarkan. Mata, mulut, jari, dan seluruh pikiranku hanya berpusat pada daun pisang yang dijadikan alas makanan tradisional ini.

Selanjutnya hening.

Ia memilih diam.

Pun aku sudah diam sejak awal.

Namun waktu, cuaca, dan semua hal tidak akan pernah diam. Mereka terus maju, tanpa mau tahu kalau terselip keinginan diantara dua manusia untuk saling menunda sendu .

Tempe mendoannya sudah habis ku tandaskan, menyisakan pandangan tidak saling beradu karena memilih menyimak buliran air hujan di kaca, berlomba menebak dalam hati siapa yang akan lebih dulu mengeluarkan ekskresi dari pita suara masing-masing.

“Masih laper? Mau apa? Sate usus?”

Ternyata ia duluan.

“Enggak, aku kenyang.”

Genap 30 menit aku diam, syukurlah pita suaraku masih bisa berfungsi.

“Teh panas? Kayanya enak banget.”

“Enggak usah, di luar masih hujan. Nanti mobil kamu dalemnya basah.”

“Kan aku yang keluar.”

“Tetep aja nanti kamu misuh sendiri.”

“Hehe apal banget kamu.”

Ia terkekeh kecil, sangat manis.

Tanpa sadar aku ikut tersenyum, “Iya, kan satu tahun aku kenal kamu.”

“Sumpah? Ternyata udah lumayan lama ya. Kayanya baru kemarin ngucapin nama satu sama lain.”

“Iya, cukup lama buat ngenalin kamu dan segala kebiasaan kamu.”

Ia diam, tahu akan kemana arah pembicaraan ini.

“Dan sangat sulit untuk ngelupainnya.”

Barusan aku yang melanjutkan.

Please, don’t.”

Dia menggunakan Bahasa Inggris, caranya menyembunyikan kedukaannya. Namun bagiku itu tidak berhasil.

I can’t.”

But you said I’m your safe place.”

“Tapi bukan berarti aku harus ngejebak kamu selamanya di dalam gelapnya aku.”

And you’re my safe space.”

Ia tidak mau mendengarkan penjelasanku, lebih tepatnya mengelak.

“Kita udah diskusiin ini dua jam yang lalu kan?”

Our ending?”

“Kita bahkan belum sempat memulai apa-apa.”

Miris, tapi itu benar adanya.

Ia menegakkan posisi duduknya, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.

I never. Will never. Agree with our separation.”

Aku memilih diam (lagi).

Ia diam pula, membiarkan kembali hening menguasai dan mendamaikan intensitas panas di dalam kepalanya. Kontras dengan suhu dua puluh satu derajat di luar.

“Tapi, mau enggak mau aku harus setuju. Kita sama-sama belum siap.”

“Kita belum pernah berusaha untuk healing sepenuhnya.”

“Maaf, aku kayanya egois ya?”

Tiga kalimat tadi adalah ia yang berbicara dengan dirinya sendiri.

“Hei.”

Suara pelan itu masih dari mulutnya.

“Ya?”

Suaraku tenang, tapi tidak dengan ruang yang bersiap kosong di dalam sana.

Can I say something?

Aku tidak pernah siap mendengarkan.

Tidak ingin.

Dan tidak akan pernah ingin.

Go ahead.”

Dasar tukang denial. Aku.

If someday we meet again, when all the hurts become healed. Will you run to me again? Or can I  run to hold you back?

Haruskah aku menjawab pertanyaan retoris itu?

“Ya, aku juga enggak bisa kemana-mana.”

Satu.

“Buntunya di kamu.”

Dua.

And I never want to begin a journey again with someone else. Just you.”

Tiga.

Tiga kalimat dari mulutku, melegakan sekaligus menyakitkan.

Glad to hear that.”

Ia benar-benar lega.

“Sana masuk, udah larut. Langsung tidur. Jangan makan mi instan terus. Jangan telat makan. Kalau kamu butuh sesuatu,”

Jeda.

“Jangan sungkan untuk bilang ke aku.”

Aku mengangguk dengan senyum kecil.

Ia menarik pelan lengan bajuku.

Aku menoleh.

Last hug?

Aku meralat, menyerusukkan tubuhku ke dalam rengkuhan longgarnya.

It isn’t the last. We just break.”

“Inget yang aku bilang, aku udah enggak bisa jadi reminder kamu lagi.

Aku mengangguk.

Aku usai.

Ia usai.

Kami usai.

Usai atas hal yang tidak pernah kami mulai.

Letting Go

!!! TRIGGER WARNING: SUICIDE, DEPRESSION, DEATH!!!

Note: Disarankan sambil mendengarkan lagu “Letting Go Rebooted Ver”nya Day6, biar lebih ngena ke ceritanya.

“Sheil? Kamu engga mau makan apa-apa?”

Hanya ada gerakkan kepala di bahuku sebagai jawabannya. Sebuah gelengan.

Aku menghela napas pelan, memandang hiruk pikuk jalanan Jakarta yang selalu ramai –terlebih ini Sabtu malam. Namun baru kali ini aku merasa segala sesuatu terasa begitu damai, entah suara klakson kendaraan mobil yang bersahut-sahutan di bawah sana, atau kerlap-kerlip lampu dari para gedung pencakar langit di sekitarku yang terlihat menyenangkan untuk dilihat, atau bisa jadi karena aku hanya duduk diam dan memandangi segalanya sehingga semuanya seperti berjalan dengan begitu elegan –akan berbeda cerita kalau aku terjebak macet di jalan saat ini, yang terjadi adalah tekanan darahku akan meninggi dan sakit kepalaku akan mendadak muncul seperti biasanya.

Seharusnya Sabtu malam ini kuhabiskan di balik meja kerjaku, mengerjakan seluruh laporan perjalanan dinasku pada tiga hari sebelumnya sehingga esok aku bisa memperpanjang waktu lelapku yang sudah tersita habis karena pekerjaan. Namun yang kulakukan saat ini malah duduk di sebuah sofa panjang yang terletak di balkon apartemen perempuan yang sejak satu jam yang lalu hanya bersandar di bahuku, ditemani dengan segelas red velvet latte untuknya dan caffe latte milikku yang panasnya sudah menguap karena terlalu lama dibiarkan di ruang terbuka.

“Ro, kamu udah di Jakarta?”

Aku yang memang baru saja meletakkan koperku di pojok kamar agak terkejut ketika menerima panggilan telepon dari Nanda, kakak laki-lakinya. Tidak, sejujurnya aku lebih terkejut karena penggunaan kata ‘aku-kamu’ yang digunakan Nanda. Seingatku Nanda hanya menggunakan kata itu ketika berada di situasi yang serius.

“Iya, baru banget di rumah. Kenapa, bang?” jawabku, di dalam kepala aku sedang menerka-nerka apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh lawan bicaraku.

“Bisa ke tempat Sheila engga? Gatau kenapa dia susah banget dihubungin, terakhir cuma bales chat bilang ‘gapapa’ gitu. Aku lagi di Palembang dan besok ada meeting bareng klien.”

Dan tidak butuh lebih dari tiga puluh menit aku sudah berdiri di dalam ruang apartemennya, tetap rapi seperti biasanya. Hanya ada satu kotak makanan cepat saji yang terbuka di meja dapurnya, tersisa separuh ayam goreng. Aku meneliti setiap ruangan yang ada di sekitarku, tidak ada sosok Sheila. Langkah kakiku terbawa menuju balkon dan benar saja, ia sedang duduk dengan memeluk lututnya menatap kosong pemandangan di hadapannya.

Aku melirik ke arah jam yang terpatri di dalam, pukul 11 lewat 15 malam. Sejujurnya aku sudah sangat mengantuk, selama perjalanan kembali dari Surabaya aku tidak tidur karena menyicil laporan di laptop. Padahal perjalanan 12 jam menggunakan kereta itu seharusnya aku manfaatkan saja untuk memejamkan mata walaupun hanya tiga jam saja. Tapi perempuan di sebelahku ini tidak ada tanda-tanda untuk bangkit masuk ke dalam. Dan aku harus mati-matian menahan agar aku tidak menguap.

“Ada monster besar di dalam kepalaku, Ro.” Setelah hening sekian lama, suara Sheila terdengar. Terdengar serak dan parau. Aku memilih untuk diam, dalam hati berharap ia melanjutkan ceritanya.

Tuhan menjawab doaku, ia kembali berbicara. “Monsternya besar sekali, kapanpun ia selalu berada di hadapanku. Gelap sekali, ia seperti menutupi semua cahaya yang ingin masuk ke dalam mataku.”

Ia bercerita dengan tatapan yang kosong, tidak seperti Sheila yang biasanya yang selalu ceria dan penuh perhatian terhadap segala sesuatu. Sheila yang saat ini bersamaku benar-benar bukan seperti Sheila yang sudah berkawan denganku selama delapan tahun lamanya. Dan aku merasa sangat bersalah karena tidak berada di sisinya selama masa-masa sulitnya.

Sepertinya Tuhan menyampaikan monolog di dalam kepalaku kepadanya, karena tiba-tiba ia berujar, “Bukan salah kamu, Ro. Monsternya memang sudah lama datang tapi aku tidak pernah bercerita pada siapapun kalau ia sudah membersamaiku.”

“Kenapa kamu milih buat engga cerita Shei?” kali ini akhirnya aku mencoba bertanya, dengan suara yang kuusahakan selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaannya.

Aku melihatnya sekilas kalau ia tersenyum kecil. “Aku tidak ingin menjadi beban kalian semua. Ayah dan Ibu sudah cukup untuk menanggung biaya ku dan Nanda serta segalanya sampai kami kini punya penghasilan dan kehidupan masing-masing. Sudah saatnya mereka istirahat dan menikmati segalanya berdua. Nanda? Kupikir berkata bahwa aku baik-baik saja sudah cukup membuat Nanda tenang menjalani pekerjaannya. Ia sudah cukup pusing mengerjakan disertasi dan pekerjaannya, jangan sampai aku malah ikut-ikutan membuatnya semakin mumet.”

“Kau lupa ada seorang Jevaro Yanuar di kehidupan Sheila Nandira.” Protesku.

Ia mencubit lenganku pelan, yang membuatku terkikik pelan. “Jevaroku sedang sibuk, ia sedang mempersiapkan diri untuk promosi jabatannya. Apalagi akhir bulan nanti dia mau wisuda gelar masternya, apa tidak kasihan aku melihat kantung matanya yang mungkin saja bisa menyimpan baju di dalam sana.” Ia menyindirku dan sialnya itu benar semua. Aku selalu menceritakan segalanya pada Sheila.

Dan baru kusadari, Sheila yang sebenarnya butuh seorang pendengar memilih untuk tidak berbicara karena ia tahu banyak yang membutuhkannya sebagai pendengar.

“Lalu sekarang akhirnya kamu mau bercerita, terima kasih.” Aku menggenggam sebelah tangannya yang sejak tadi memainkan jari-jariku. Dingin.

Sheila mengelus ibu jariku yang menggenggam tangannya. Sungguh, ia terasa begitu ringkih saat ini. Aku memilih untuk tidak bicara banyak karena kupikir sudah saatnya diriku menjadi pendengar untuknya, aku hanya perlu menunggu ia bercerita apapun yang ingin ia ceritakan.

“Kupikir tiga puluh tahun sudah cukup.”

Aku tahu akan mengarah kemana pembicaraan ini. Dadaku kini mulai merasakan sesak, tapi aku akan terus mendengarkan. Aku tidak ingin ia berhenti berbicara dan menghindariku karena aku langsung gegabah menyerbunya dengan berbagai kalimat. “Mengapa begitu?” hanya itu yang akhirnya berani kuucapkan.

Sheila mengangkat kepalanya dan mengubah posisinya menghadapku, yang kuikuti juga sehingga kami berdua saling berhadapan. Jujur aku menyesal dengan situasi saat ini, karena yang kulihat adalah sinar matanya yang meredup. Ia tampak biasa saja sekilas, namun jika diperhatikan kembali dengan seksama, ia sudah tidak memiliki pancaran semangat dari kedua bola matanya.

“Aku sudah mencapai semua tujuanku, mendapatkan penghasilan dan membahagiakan orang tuaku, melihat Nanda mencapai keiinginannya –yah aku tahu seharusnya aku melihat Nanda menikah, tapi sepertinya ia tidak akan menikah mengingat ia terlalu ambisius dengan pekerjaannya. Dan mengetahui bahwa aku memilikimu sebagai satu-satunya teaman terdekatku dan kini kau sudah mencapai segala mimpimu. Kurasa itu sudah lebih dari cukup.”

“Dan yah, monster ini. Aku sudah lelah bertarung dengan monster aneh ini, tampaknya ia tidak mau mengalah. Jadi aku saja yang mengalah. Kau tahu kan aku sangat benci konflik?” ia tertawa, namun dari matanya sudah berlinangan air mata.

Tanpa menunggu persetujuannya, aku menariknya ke dalam pelukanku. Aku memeluknya sangat erat, namun memastikan ia tidak akan sesak. Aku melakukannya karena tidak ingin Sheila melihatku menangis, cukup ia yang sedang merasa tidak kuat, aku tidak ingin memperlihatkan bahwa diriku sedang lemah juga di hadapannya. Saat ini aku ingin Sheila-ku bergantung padaku.

Ia menangis sesenggukkan di ceruk leherku, tangannya memegang erat lengan hoodie hitam yang sedang kukenakan. Tanganku mengelus helaian rambut hitamnya. Membiarkannya tetap menangis dalam pelukanku.

I keep thinking in my head

Should I say this or not

“Shei,” aku memanggil namanya. Jelas terdengar kalau suaraku sangat bergetar karena aku menahan tangisku.

Although I don’t want to

I’d been holding on to you for so long

“Jika suatu hari nanti, Tuhan ngasih izin ke kamu maupun aku untuk bertemu lagi di kehidupan selanjutnya…” suaraku terputus karena tersedak oleh tangisanku sendiri. Posisi kami tidak berubah, pelukanku tetap erat dengan tangan Sheila yang masih menggenggam erat lengan hoodie ku.

“…aku mau kamu bergantung ke aku ya? Jangan merasa kamu beban ketika kamu ingin bercerita. Entah hari kamu lagi baik atau sebaliknya. I want to be a part in your best day or even your worst, ok?” Hanya kalimat itu yang kuucapkan dan tangis ku pecah. Aku mengeratkan pelukanku padanya. Berharap Sheila memahami makna sebenarnya dari yang kuucapkan.

Ia mengangguk dalam pelukanku. Kini tangannya bergerak mengelus lenganku, berusaha menenangkan. Padahal seharusnya akulah yang hadir untuk menenangkannya. Sheila ku memang hadir untuk menenangkan temannya yang seperti bayi besar ini.

But now I must let go

There’s nothing I can do for you

It’s the only way to make you happy

“Ro, aku berterima kasih pada Tuhan karena udah mempertemukan aku dengan kamu. You’ll be my forever Jevaro Yanuar, no matter what. Thank you so much.

Holding on to you

Will do you no good

I know, so I struggle to get you out

“Selamat beristirahat dengan tenang, Sheila Nandira.”

So I let go

Let go

Let go

Aku berbaring di kasurku. Setelah Sheila tertidur dalam pelukanku, aku memindahkannya ke dalam kamarnya. Setelah memastikan ia tidak terbangun, aku membereskan apartemennya hingga bersih dan pulang menuju rumahku. Dalam perjalanan aku mengabari Nanda bahwa adiknya telah tertidur pulas –aku tidak menceritakan apa yang terjadi saat pertemuan kami di balkon, karena kupikir Sheila akan menjelaskannya sendiri dengan caranya. Nanda berterima kasih dan berkata meeting dengan kliennya dibatalkan, esok siang ia akan tiba di Jakarta.

Lama sekali aku menatap langit-langit kamarku, mencoba mengingat-ingat kembali memori indahku bersama Sheila. Pada pertemuan pertama kali di sebuah seminar di acara kampus, obrolan pertama kami di sebuah warung kopi setelah pulang perkuliahan, perjalanan pertama kami menjelajahi perbatasan untuk sebuah kegiatan kemanusiaan, dan banyak lagi sampai tidak terasa aku tertidur dengan memeluk bingkai foto yang berisi gambar kami berdua saat berada di Papua.

Aku harap aku tidak pernah menyesali segala keputusanku atas Sheila.

Esok harinya aku terbangun di siang hari karena handphoneku tidak berhenti bergetar, 50 panggilan tidak terjawab dari Nanda.

Dan sebuah pesan masuk dari Nanda pula.

Ro, Sheila pergi. Ninggalin kita semua. Dia overdosis obat tidur.

Sekali lagi, aku harap aku tidak pernah menyesali segala keputusanku atas Sheila.

The times we had together, our dear memories

I let go, let go, let go

So you can smile someday.

Halo, terima kasih sudah membaca cerita pendek ini hingga selesai. Ini mendadak banget ditulis karena, ya sejujurnya yang dialami Sheila itu kurang lebih sedang kualami saat ini. Jadi cerita ini merupakan pelampiasan karena aku sulit bercerita mengenai apa yang terjadi padaku. Maaf ya agak aneh, semoga suka. Dan jangan lupa hubungi orang terdekat kalian ketika kalian membutuhkan tempat untuk cerita. Semoga hari-hari kalian akan selalu baik <3.

Erotis

Kasih, sudikah kau bercumbu dengan kerumitanku yang sejak permukaannya saja sudah bergerigi, rasanya tidak ada kupu-kupu terbang menggeliat di perutmu.

Tidakkah engkau enggan memeluk erat pada kebencianku akan dunia, sama sekali tidak ada hangat sakura disana melainkan beku terkutuk alaska menyelubungi.

Penasarankah dirimu memasuki diriku lebih dalam, yakinlah disitu tidak akan pernah sang basah akan menyambut, malah si kering retak akan memenuhi bagian dalam dirimu.

13.04.21

Aku Ingin Kau

Aku ingin tenggelam dalam ceruk tubuhmu yang harumnya menguar hingga tercipta memoar.


Mengucap angan yang terbang melalang buana di ruang angkasa dengan lengan yang mendekap nyaman.


Atau berbagi hangat dalam senyap meski kadang senyum tiba-tiba merayap.


Aku ingin kau begitu dalam sampai rasanya sang waras memilih berpamit undur diri.


Aku ingin kau.


Begitu dalam.


Namun kau hanya sebatas harap yang tak pernah diungkap.

24. 2. 21

[Publikasi] Aku Melawan Ruang

Hula halo hai!

Jujur rasanya agak kaku untuk mulai menulis di blog ini karena sudah terlampau lama sekali sejak terakhir aku meninggalkan jejak di sini. Ya maklum, ketika kuliah masih berlangsung diriku sama sekali tidak memiliki ide apapun untuk menulis (ya sampai sekarang sih…)

Tapi aku rindu sekali menulis disini (ini serius lho) ya tapi astaga aku belum menemukan ide harus menulis apa. Lalu aku putuskan untuk mencoba mempublikasikan kumpulan puisi yang sudah sejak tahun lalu telah selesai kubuat. Ya meski tidak terlalu bagus, semoga para pembaca berkenan untuk membaca, oh iya jangan lupa kritik dan saran ya sehingga ke depannya

sumber: dokumen pribadi

Untuk filenya dapat diunduh melalui link berikut:

https://drive.google.com/file/d/1nGzOlOfOToAoSO3CVKUub21wegHuUbYY/view?usp=sharing

Selamat membaca 🙂

Hidup dalam Labirin dan Mengejar Mentari

Hidup bagi banyak manusia diibaratkan seperti perputaran roda, di suatu masa akan berada di atas –yang berarti berada di masa jaya, lalu di suatu masa kemudian akan bergulir menuju bawah –bisa diartikan kita akan tiba di masa kejatuhan atau kelam. Namun, apa jadinya jika sebenarnya hidup itu diibaratkan seperti terjebak di dalam labirin yang tidak memiliki jalan keluar namun memiliki banyak pintu dan sangat luas? Setiap pintu yang dibuka memiliki ceritera tersendiri yang hendak disampaikan.

Kalimat itu secara mendadak muncul di kepala saya ketika saya sedang berada di fase sangat lelah dengan keadaan –kuliah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh, tugas perkuliahan yang semakin tidak manusiawi, keadaan rumah yang sedikit kondusif, dan tekanan luar biasa lainnya yang sepertinya sengaja hadir di waktu yang tepat ini. Perkenalkan, saya Malahayati Damayanti Firdaus, nama yang cukup panjang ini bisa dengan mudah disingkat dengan panggilan Mala saja. Esai ini saya tulis berfokus pada bagaimana keadaan saya selama pandemi yang datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan bagaimana saya berusaha agar matahari tetap bersinar dalam diri saya meski berada di keadaan yang sesungguhnya sangat membingungkan ini.

Awal Maret tahun 2020 bagi saya adalah titik balik perubahan yang sungguh mengejutkan bagi saya. Saya yang sedang berada di keadaan yang sungguh senang karena memulai awal semester dengan sangat indah di kota perantauan, menjelajahi tempat yang belum pernah saya kunjungi, tidak tidur beberapa malam karena bersenda gurau bersama teman di kamar indekos, atau menangis bersama karena tugas yang tidak kunjung selesai padahal tanggal pengumpulan hanya tersisa beberapa jam saja di depan mata. Saya dipukul mundur oleh kabar berupa serangan pandemi luar biasa yang menerjang nyaris seluruh permukaan planet, terpaksa kembali ke rumah, menjalani perkuliahan sendiri, mengerjakan tugas sendiri, menangis sendiri, dan segalanya yang seharusnya bisa saya lakukan bersama teman wajib saya lakukan sendiri.

Maret berganti April, April berganti Mei, dan begitu seterusnya hingga bak satu kedipan mata, penghujung tahun sudah begitu dekat hingga bisa diraih dalam satu langkah. Selama waktu-waktu berjalan saya mengalami banyak peristiwa yang ternyata tidak seluruhnya buruk. Seperti kalimat yang selalu saya genggam sebagai prinsip “hidup tidak selalu hitam kelam, namun tidak sepenuhnya putih jernih” atau terkadang pula seperti warna abu-abu, kita tidak tahu apakah suatu peristiwa itu baik atau buruk.

Saya mengalami masa-masa kelam ketika saya harus memaksakan diri saya untuk kuat dalam keadaan dimana saya harus menuntaskan segala tugas perkuliahan yang sungguh banyaknya, namun kedua orangtua saya tetap menuntut untuk menuntaskan seluruh pekerjaan rumah di saat saya sedang berada dalam periode waktu untuk kelas daring, saya wajib melakukan keduanya atau saya nantinya akan dikatakan sebagai anak pemalas oleh mereka. Saya juga harus berusaha mematikan rasa insecure atau rendah diri saya yang nyaris setiap hari hadir begitu melihat seluruh teman-teman dekat saya berada dalam keadaan sungguh produktif sedangkan saya tidak bisa melakukan apa-apa dikarenakan saya tidak berani ambil risiko untuk mengambil banyak kegiatan selain kegiatan akademik karena orangtua saya cukup menentang ketika saya ingin mengambil kegiatan yang sesuai minat saya, yaitu dunia sastra dan kepenulisan. Saya juga harus menahan tangisan setiap malam karena rasa lelah yang semakin lama semakin menggerus bagian dalam diri saya sendiri, tidak terpikirkan bagi saya untuk bercerita pada kedua orangtua saya sebab cukup trauma dengan masa lalu saat saya menceritakan saya begitu lelah secara mental, mereka memilih untuk mengatakan saya sebagai anak yang lemah lalu membandingkan dengan masalah yang mereka alami. Mala di masa lalu itu sebenarnya paham masalah kedua orangtuanya memang lebih banyak, namun apakah salah bagi seorang anak ingin bercerita tentang bagaimana kejamnya dunia lalu mengharap atas penenangan dari orang yang seharusnya menjadi ‘rumah’ baginya?

Orangtua tidak mampu menjadi ‘rumah’ bagi si Mala, lalu bagaimana dengan teman dekatnya? Tidak mudah bagi saya untuk menceritakan masalah diri ini ketika saya sudah mengetahui dengan sangat jelas bahwa permasalahan teman saya jauh lebih berat dibandingkan saya –ini berdasarkan penilaian pribadi diri saya tentu saja. Pada akhirnya saya memilih untuk memendam segalanya sendiri yang tenyata berakibat fatal pada diri saya. Saya merasa diri saya semakin hina dan tidak bermakna. Saya membenci diri saya sendiri. Ya, seorang Mala yang sejak awal sudah membenci dirinya sendiri makin terperosok ke dalam jurang kebencian terhadap dirinya. Saya berkawan baik dengan gelap dan hampa, sulit mengungkapkan bagaimana perasaan yang berkecamuk di dalam tubuh sampai timbul rasa sesak yang tidak pernah saya rasakan di waktu lampau. Saya merasa gusar dengan sesak yang tidak pernah saya kenal, saya merasa terlalu sakit namun dimana letak kesakitannya tidak pernah saya ketahui. Lalu entah bagaimana caranya, secara tidak sadar tangan ini meraih gunting yang memang tergeletak di atas meja belajar. Untuk pertama kalinya dalam nyaris dua puluh tahun kehidupan remaja bernama Mala, ia berkenalan baik dengan ‘melukai diri sendiri’ dan terus erat hingga sekarang.

Masa-masa tersebut bagaikan badai yang tidak kunjung berakhir, dimana rasa sesak yang menyusahkan itu menyapa, maka gunting hitam kecil itu akan menyambut menghasilkan karya besar di pergelangan tangan yang semula tidak pernah ada apa-apa disana. Saya menjadi sosok yang menutup diri dari semua keadaan dan selalu berekspresi datar –saya mulai sulit membedakan apakah saya merasakan kesenangan karena yang saya tahu dimana kesenangan datang menghampiri, kesedihan tak berujung pasti akan menyusul. Saya mulai tidak peduli dengan keadaan tubuh maupun mental saya karena yang saat itu bersarang di kepala saya adalah ‘jika orang lain saja tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan diri saya, untuk apa saya ikut peduli?’dan beberapa saat kemudian saya menyadari betapa rendahnya pemikiran tersebut.

Matahari dalam diri Mala mulai menampakkan sinarnya disaat perayaan hari kesehatan mental pada tanggal 10 Oktober. Saya dengan rasa ingin tahu yang cukup besar memberanikan diri untuk mengikuti seminar yang membahas tentang “Luka di Masa Lalu”. Selama saya mengikuti acara tersebut, sisi hati kecil saya yang terlampau keras ini mendadak melunak begitu mendengar ucapan narasumber yang masih segar berada di otak saya. Narasumbernya adalah seorang penyanyi yang saat ini sedang terkenal yaitu Baskara Putra atau sering disebut dengan Hindia. Beliau berkata “Kalau bukan dari diri sendiri yang berusaha untuk menyembuhkan luka yang memang hanya kita yang tahu, siapa lagi yang bisa diandalkan?”

Saya tertampar begitu kerasnya hingga rasanya kepala begitu pening, pening memikiran tentang bagaimana bodohnya saya membiarkan badai menerjang kehidupan saya begitu lama. Saya terlalu sibuk meyalahkan keadaan yang menyelimuti saya hingga tanpa sadar saya sedang membesarkan sebuah ego untuk membenci diri saya sendiri. Seolah-olah saya sedang membunuh secara perlahan tubuh serta jiwa ini. Saya terlalu memerhatikan berapa banyak kelam yang saya alami hingga lupa mungkin ada cerah yang menyapa saya namun saya abaikan dan saya hempaskan jauh-jauh. Begitu memprihatinkan diri saya, namun saya tidak ingin jatuh kembali ke dalam jurang yang sama atau justru terjatuh ke jurang yang jauh lebih dalam dan tidak tahu kapan akan menemukan ujungnya.

Tanpa harus berpikir panjang, saya mencoba untuk menanam kembali diri saya. Menjadi pribadi yang mulai menerima serta mencintai diri saya sendiri. Karena saya pun tahu pada akhirnya saya tidak dapat kembali ke waktu lampau dimana saya dapat mengubah segalanya, saya tidak dapat berdoa kepada Tuhan agar memundurkan waktu agar saya tidak perlu lagi menunjuk keadaan sebagai biang kegundah gulanaan saya dan saya tidak mau menjadi orang yang begitu memprihatinkan lagi. Perlahan tapi pasti saya bangkit, meski rasanya sangat sulit. Dengan bantuan konselor online saya mencari tahu apa yang bisa saya lakukan untuk menolong diri saya yang nyaris sekarat. Mulai membangun kembali kebiasaan membaca yang sempat hilang, membuat daftar hal-hal apa saja yang harus dilakukan jika masa gelap itu kembali datang, dan konsultasi secara rutin ke konselor. Saya bahkan mulai menantang diri saya untuk mendaftar berbagai kegiatan di luar akademik sebagai bentuk perlawanan diri sekaligus memberikan diri saya apa yang saya sukai, saya mendaftarkan diri ke dalam komunitas anti perundungan, mendaftar sebagai panitia orientasi mahasiswa baru, dan kegiatan lainnya. Di suatu kesempatan saya mencoba mencurahkan perasaan saya dalam bentuk cerita singkat maupun puisi yang ternyata berhasil menyingkirkan perasaan sesak dalam diri. Namun segalanya memang tidak berjalan dengan sangat mudah, kecanduan saya terhadap melukai diri sendiri masih cukup sulit untuk dilenyapkan tapi bukan berarti saya akan menyerah begitu saja. Saya mencari distraksi dengan mencoret tinta merah di atas pergelangan tangan, yang cukup membuahkan hasil. Saya kali ini enggan untuk menyerah bertarung dengan badai yang ingin berkenalan kembali.

Seperti Bumi yang selalu mengitari matahari, yang menandakan bahwa matahari tidak pernah pergi meninggalkan melainkan tetap berdiam menunggu Bumi terus mencarinya. Matahari dalam dalam diri saya pun sebenarnya tetap ada, namun pada saat itu saya malah berlari menuju lubang hitam yang penuh dengan pengharapan yang tidak baik. Matahari tidak pernah berhenti bersinar meski siang dan malam selalu hadir, sama seperti harapan akan masa yang lebih baik akan selalu hadir meski keadaan selalu berganti antara baik atau buruk.

Lalu kehidupan juga berjalan seperti kita terjebak di dalam labirin yang luas dan memiliki banyak pintu disana, kita tidak akan tahu bagaimana isi di dalam masing-masing pintu. Yang pasti, setiap mengunjungi satu pintu pasti terdapat hal yang bisa dijadikan pembelajaran untuk berhati-hati dalam membuka pintu-pintu lainnya. Ini merupakan pembelajaran penting bagi saya. Apapun yang telah saya lewati di belakang, saya tidak perlu susah payah untuk menyalahkannya atau memohon hiteris agar saya bisa dikembalikan ke masa itu. Saya hanya perlu tersenyum dan menanamkan dengan baik bagaimana di depan saya akan mengambil langkah yang bijak dan baik namun tidak mengabaikan keinginan diri sendiri.

Kurang lebih lima puluh lima hari lagi saya akan berpijak pada tahun yang lain, tahun yang mungkin hanya berganti angka saja namun siapa yang tahu ada cerita apa disana? Tidak ingin muluk-muluk tentang pengharapan apa yang saya panjatkan ke sang penguasa langit dan seluruh isinya, saya hanya meminta semoga di tahun besok, dua tahun, atau berbelas-belas tahun yang akan menghampiri nanti saya selalu diberikan keteguhan dan kedamaian dari dalam hati agar saya bisa terus mencintai dan menerima diri saya sendiri apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaan menghampiri saya. Yang saya inginkan pula adalah, saya harus tetap mengejar cahaya matahari untuk diri saya meskipun harus melewati badai besar yang menghadang. Mungkin ada saat dimana cahaya tersebut akan meredup, namun saya akan berjanji untuk tetap memeluk diri saya apapun yang akan terjadi dan berlari meraih mentari yang saya yakin, ia selalu hadir untuk seorang Mala.

Sebuah Puisi Kala Sepi Datang Memeluk Erat

Hari ini aku sedang bersedih

Pada asap abu-abu yang menyelubungi seluruh tubuh

Mengikat, sesak, tak kasat mata, sungguh keruh

Jalan manapun enggan menyumbang arah ‘tuk pergi jauh

Aku diam, kepala serong kiri-kanan mengharap ada ruh

Bisa saja datang menolong atau malah membunuh

Kosong, hampa, tak temu siapapun untuk menaruh

Lama sekali sampai rasanya aku bisa mengajak malaikat bertaruh

Seberapa lama aku berdansa sendiri menunggu sang pengasih

Kemudian aku tidak ingin lagi bersedih

Aku ingin mati, memberi jeda lama pada tubuh.

Pamit.

Bagian samping dari gedung perpustakaan universitas merupakan tempat favorit bagi sebagian besar mahasiswa untuk menyelenggarakan rapat –entah mengenai organisasi atau pengadaan acara tertentu. Meski tidak ada apapun selain duduk di lantai putih yang dingin, suasananya yang cukup tenang dan angin yang lembut bertiup menjadi faktor utama yang menjadikan tempat ini sebagai tempat berkumpul yang sangat murah meriah –dibandingkan ketika berkumpul di tempat makan tertentu yang sudah pasti akan merogoh isi dompet anak kost yang sungguh tidak seberapa.

Pun tempat ini juga menjadi salah satu spot terbaik bagiku di kampus, terutama saat malam hari. Sebab kalau matamu jeli akan terlihat pemandangan lampu-lampu kota yang menyala, suara jangkrik atau bahkan tokek sesekali akan menambah suasana alam yang semakin menjiwai. Dan jangan lupakan aroma pepohonan yang khas yang begitu terhirup akan memberikan sedikit kelegaan setelah seharian penuh beraktifitas.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku sedikit terperanjat ketika sebuah suara menyapa indra pendengaranku. Karena sejak tadi aku memilih untuk menyingkir dari teman-temanku yang tertawa hingar bingar sembari menunggu rapat yang tak kunjung dimulai, padahal waktu sudah semakin larut dan aku ingin cepat-cepat merebahkan diri di kasur indekosku yang sangat nyaman.

Orang yang bersuara barusan itu berjalan menghampiriku, lalu tanpa meminta izin ia langsung duduk dan meluruskan kakinya di sebelahku. Ia tak menatapku sama sekali dan lebih memilih menatap dedaunan yang sedikit bergoyang karena tiupan angin.

“Baik.” Hanya itu yang ku ucapkan. Aku merasa canggung setengah hidup di dalam situasi seperti ini, berdua dan menyingkir dari keramaian. Aku sedikit bergeser dari posisiku semula untuk memberi sedikit jarak dengannya.

Tampaknya ia menyadari bahwa aku agak menjauh darinya, jadi ia memalingkan wajahnya dan menatapku tampak tidak puas dengan jawaban singkat atas pertanyannya. “Hanya itu? Kita bahkan sudah satu tahun tidak bertemu.”

Aku menoleh ke arahnya dengan ragu, ia masih tetap sama. Ia masih seperti laki-laki yang terakhir kutemui satu tahun yang lalu, saat sebelum pandemi menyerang sehingga memaksa keadaan untuk memisahkan aku dengannya. Rambut hitam legamnya yang selalu terlihat acak-acakan, bulu matanya yang lentik, kulit bibirnya yang selalu kering hingga pernah aku menceramahinya tentang betapa pentingnya pelembab bibir untuk semua gender, dan yang paling tidak berubah sama sekali adalah jaket hitamnya yang selalu ia kenakan hingga menutupi leher.

“Memang aku harus menjawab apa?” Aku langsung mengalihkan pandanganku begitu menyadari aku menatapnya terlalu lama. Beralih untuk mengambil ponselku dan mengecek apakah ada pemberitahuan bahwa rapat akan segera dimulai atau dibatalkan karena masih saja ada yang belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran.

Aku merasakan ia melipat kakinya dan mengubah posisi duduknya untuk menghadapku. “Kau yakin tidak ada yang ingin diceritakan?” sepertinya ia merasa begitu tidak yakin dengan jawabanku.

Ada, banyak sekali,’ batinku. ‘Tentang bagaimana aku melalui setengah tahun yang begitu aneh karena aku merindukanmu, atau satu bulan berikutnya aku merasa bimbang apakah perlu untuk melanjutkan perasaanku padamu, dan lima bulan terakhir yang kujadikan sebagai perjalanan waktu untuk melupakanmu. Namun sekarang kau duduk di sebelahku seolah melupakan banyak kejadian antara kau dan aku pada satu tahun yang lalu’ aku menatapnya dengan dingin, “Tidak ada.”

Ia terperangah mendengar jawabanku, tampaknya terkejut dengan sikapku padanya yang sangat berubah. Biasanya aku selalu tertawa hingga tidak tahu diri, membicarakan apa saja, atau bertanya tentang apa saja padanya. Tidak. Kali ini aku tidak ingin terlihat antusias ketika bersamanya sebab sudah saatnya untuk menghentikan perasaan yang tidak akan pernah terbalas ini.

“Begitu ya…” ia menggantungkan ucapannya. Tangannya bergerak memilin tali jaketnya sekaligus membiarkan hening menguasai kami.

Aku merasa jengah dengan situasi ini, ingin rasanya bangkit dan meninggalkannya namun kupikir itu adalah suatu hal yang jahat jika dilakukan. Di sisi lain ada sudut kecil yang memintaku untuk jangan beranjak, jadi yang kulakukan adalah mengambil earphone hitam yang selalu ku bawa kemana-mana dan memasangnya di telingaku –menyumbat indra pendengaranku dengan beberapa lagu sendu yang mendukung suasana.

“Selama satu tahun ini aku berpikir banyak.” ia membuka percakapan lagi. Terdengar seperti gumaman kepada dirinya sendiri tapi aku mendengar apa yang ia ucapkan meski dengan volume pelan. “Rasanya saat terakhir kali pertemuan kita ada sesuatu yang belum tuntas”

Aku membeku mendengar ucapannya. Tentu saja aku tahu apa yang ia maksud dalam ucapannya. Pertemuan terakhir kami seperti anti-klimaks dalam sebuah novel, ia menjauhiku setelah beberapa kenangan manis diantara kami terukir, setelah kami berdua saling bercerita betapa hancurnya perasaan kami karena keluarga, setelah beberapa tangis yang kulalui dengan ia yang berada di sampingku. Menjauhiku setelah pengakuan mengejutkan yang ia beritahu sebelum ia beranjak pergi menjauhiku.

“Aku tidak bisa melanjutkan ini,” katanya saat itu.

“Kita bahkan tidak memulai apa-apa,” jawabku. Tentu saja kami masih hanya sebatas seorang teman, tidak ada lebih dari itu.

“Ada satu lain hal yang membuatku selalu melakukan tindakan di luar kendaliku saat bersamamu. Aku bahkan tidak pernah melakukannya sebelumnya.” yang ia maksud adalah menemaniku menangis di malam sebelum kepulanganku ke Jakarta dan menggenggam tanganku dengan erat saat kedinginan menyapa di malam acara kampus.

“Aku paham.” tidak, sebenarnya aku sama sekali tidak paham atas situasi ini.

“Jika ingin bercerita, kau bisa bercerita masalahmu pada Fafa dan Tia. Mereka sahabatmu kan?” ia menyebutkan dua teman dekatku.

Seharusnya ia ingat alasanku tidak pernah bercerita kepada dua teman dekatku, aku ingin membantah tapi yang kulakukan adalah “Ya, terimakasih”

Dan berakhirlah kami seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

“Jika dipikir-pikir aku keterlaluan ya?” perkataannya membuatku tersadar dari lamunan memori masa lalu yang menerpa bak banjir bandang di kepalaku. Aku masih kukuh dengan menatap pemandangan di hadapanku dengan earphone yang menyumbat telingaku.

“Aku sudah memperlakukanmu dengan sebegitu berbedanya, namun dengan tidak ada otak aku meningalkanmu di sana.” ia terkekeh kecil setelahnya, ia tetap melanjutkan ucapannya meski mungkin saja ia menyadari aku tampak tidak mendengarkannya. “Tidak, aku tidak hanya memperlakukanmu dengan berbeda. Kau memang berbeda saat itu dimataku, dan hingga sekarang posisimu pun tetap sama. Kau rupanya sulit dilupakan olehku.”

Demi Tuhan, aku terkejut mendengarnya hingga tanpa sadar aku menoleh padanya dan berbicara, “Apa maksudmu?” dan kulihat ia terkejut bukan main karena ternyata aku mendengarkan semua ucapannya.

Ia berhasil menguasai dirinya kembali, menjadi tenang seperti bisanya. “Aku ingin meminta maaf padamu, atas segala hal yang membuatmu jatuh padaku hingga sebegitu dalamnya…”

“Kau, siapa yang memberi tahumu perihal perasaanku?” dengan cepat aku memotong ucapannya, karena tidak ada siapapun yang tahu mengenai perasaanku padanya kecuali teman dekatku.

“Tania, beberapa bulan yang lalu ia menceritakannya padaku.” Aku menghela napas, aku lupa kalau teman dekatku itu berada di satu organisasi yang sama dengannya.

Ia memandangku lekat-lekat sedikit memperpendek jaraknya denganku, ia tersenyum –tidak tipis seperti yang biasa ia lakukan. “Maafkan aku telah begitu jahat padamu, setelah begitu lama aku berpikir…”

“RAPAT BATAL, KETUA SAMA BENDAHARA ENGGA BISA HADIR!” lagi-lagi ucapannya terpotong, kali ini oleh salah satu temanku yang memberitahu rapat tidak jelas ini dibatalkan, dibarengi oleh keluhan keras dari yang lainnya.

Ia mendelik pada sumber suara itu kemudian kembali berfokus padaku. Aku tetap terpaku menatapnya, masih menanti kelanjutan ucapannya. “Sampai mana tadi, ah sampai aku berpikir mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk menuntaskan segalanya. Aku menyayangimu, sejak kita mulai bertemu saat acara angkatan.”

Ia menyelesaikan ucapannya dan aku terkejut bukan main. Tidak, aku terkejut bukan karena akhirnya perasaanku terbalas. Ada hal lain. “Maaf, aku…”

“Hei aku dengar rapatmu batal? Ayo cari makan.” Sepasang lengan yang kekar memeluk leherku dari belakang. Aroma maskulin menguar dari sana, membuatku semakin terkejut dengan situasi yang membingungkan ini. “Oh, sedang ada urusan?” lanjut suara itu begitu melihatku sedang terlibat pada pembicaraan serius.

“Tidak,” jawabku sambil menolehkan kepalaku untuk menghirup aroma kemejanya yang masih tetap harum meski ia tidak menggantinya sejak kelas pagi tadi. Lalu teringat ada sosok lain yang memandang kami dengan tatapan kosong.

“Rey, kenalkan ini…” aku ragu untuk melanjutkan ucapanku untuk memperkenalkan laki-laki yang masih asyik memeluk leherku. “Namanya Baskara, ngga satu fakultas. Dia dari hukum.”

Baskara tersenyum lalu melepaskan rengkuhannya dan menjulurkan tangannya pada laki-laki di depanku itu. “Halo, gue Baskara. Pacarnya dia.”  kekehnya sambil menahan sakit akibat cubitanku.

Rey masih terlihat terkejut, namun tetap menerima sambutan tangan Baskara. “Rey, teman satu jurusannya.”

Aku langsung meraih tangan Baskara untuk langsung beranjak, sekaligus menyelamatkan diri dari situasi ini. Sebelum benar-benar pergi aku sedikit mengucapkan sesuatu padanya. “Maaf, kau terlalu terlambat.”

Lalu aku benar-benar meninggalkannya.

Resensi Buku “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki”

Cover buku
Sinopsis buku

Judul buku                  : Membunuh Hantu-Hantu Patriarki

Penulis                         : Dea Safira

Penerbit                       : Penerbit Jalan Baru

Jumlah halaman        : x + 196 halaman

Tahun terbit                 : 2019

Buku “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki” merupakan salah satu dari banyaknya buku yang membahas tentang feminisme; sebuah gerakan yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan. Feminisme yang selama beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan yang hangat di banyak kalangan terutama di media sosial.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini karena melihat postingan di media sosial Instagram toko buku daring kesukaan saya, ditambah dengan rasa penasaran saya yang cukup dalam untuk mengetahui lebih jauh mengenai gerakan feminis itu sendiri (terutama di kalangan masyarakat Indonesia yang melanggengkan budaya patriarki yang begitu kuat sejak dahulu).

   Buku ini dibagi menjadi tiga bab dan 38 sub-bab yang memberikan penjabaran berbeda antara satu dengan lainnya. Bab pertama yaitu “Pemikiran Perempuan”, Dea selaku penulis buku membawa pembaca untuk berkenalan dengan gerakan feminis yang ternyata gerakan ini tidak hadir pada beberapa waktu terakhir tapi sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. Kemudian mematahkan anggapan bahwa gerakan feminis adalah produk bagian barat bumi yang sama sekali tidak sesuai untuk diterapkan di Indonesia yang menganut adat ketimuran. Bab ini juga membahas keterkaitan antara ideologi nasional yaitu Pancasila dengan feminis.

   Beralih pada bab kedua yang diberi judul “Membangun Cinta Setara” Dea lebih banyak menuliskan hubungan percintaan dari sudut pandang feminisme. Yaitu bagaimana seharusnya dalam suatu hubungan antara dua manusia tidak hanya banyak menguntungkan pihak laki-laki saja serta menjadikan perempuan memiliki peran sekadar objek seksual, mesin reproduksi, dan stigma tidak menyenangkan lainnya yang sudah berkembang luas di masyarakat. Tidak melulu soal memberi kritik pada hubungan berpasangan yang terlalu patriarkis, pada bab ini juga memberi bahasan berupa bagaimana kita tidak seharusnya menghakimi seseorang yang memilih untuk tidak menikah (sekaligus usaha untuk memberi pandangan apakah kita perlu menikah atau tidak ditelisik dari tujuan hidup ke depannya). Ada pula pembahasan mengenai bagaimana seharusnya memuji tubuh entah hanya untuk sekedar memuji atau ingin menarik perhatian, yang ketika dibaca memberikan pengetahuan bahwa ternyata memuji pun bisa menyakiti perasaan seseorang. Saya pribadi sangat menyukai bab ini, terutama pada sub-bab “Bahagia Sebelum Menikah”. Meski ketika dipikirkan usia saya masih sangatlah jauh untuk membahas pernikahan tapi begitu membaca sub-bab ini saya memiliki paradigma baru mengenai seberapa cepat waktu dan seberapa pentingkah relasi pernikahan bagi saya.

Jangan sampai karena kita tidak bahagia dengan diri sendiri, akhirnya menuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Atau, kita ternyata tidak senang dengan diri sendiri sehingga mengharapkan orang lain untuk membuat kita senang” –hal 102.

   Menuju bab terakhir yaitu “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki” Dea memberi banyak kritik pada paham patriarki (perilaku yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu) yang sudah begitu mendarah daging dalam ruang lingkup masyarakat. Mulai dari pergerakan organisasi mahasiswa yang mayoritas masih menjadikan laki-laki sebagai pihak pengambilan keputusan, narasi media yang masih saja menyudutkan korban pelecehan maupun kekerasan seksual, hingga ‘teror dosa’ yang menyatakan bahwa perempuan merupakan lading dosa bagi para kaum laki-laki patriarki.

   Semuanya ditulis oleh Dea dalam bentu esai. Meskipun berbentuk demikian saya rasa Dea Safira cukup berhasil membuat pembaca memahami betapa rumitnya hidup menjadi perempuan di negara yang mengagungkan maskulinitas ini. Tulisannya mampu menggerakkan pembacanya (terutama saya sendiri) untuk menyadari bahwa patriarki memang seharusnya tidak perlu ada lagi untuk mengurusi ruang lingkup kehidupan.

   Kelebihan buku ini adalah cara penulisannya yang tidak begitu kaku, sehingga pesan yang disampaikan dengan mudah diterima dan dipahami oleh pembaca apalagi bagi yang baru mengenal paham feminis dan ingin mencari tahu lebih lanjut mengenai gerakan tersebut.

   Sedang kekurangan yang saya tangkap dari buku ini adalah karena buku ini merupakan kumpulan esai sehingga penulisannya cenderung subjektif sehingga bisa saja menimbulkan perbedaan pandangan dalam pembahasan setiap topik di dalamnya tapi setidaknya dapat memberikan kita informasi dari adanya perbedaan sudut pandang yang ada.

  Maka dari keseluruhan buku yang saya baca ini saya memberikan rating pribadi : 4/5.

NB : Berikut ini adalah kutipan yang saya sukai dari buku ini

Bentuk berserah diri perlu dipraktikkan oleh setiap manusia. Tak hanya perempuan, tapi juga laki-laki. Bentuk penyerahan diri yan dimaksud adalah berserah kepada pencipta, sang Khalik, atau bahkan kepada diri sendiri, bukan bentuk penyerahan terhadap orang lain. Berserah diri adalah bentuk kekuatan yang bahkan kekuatan otot tak dapat memiliki” -hal 26 dan 27.

Negara yang maskulin tidak pernah melihat perempuan sebagai manusia yang berdaulat dan hanya menempatkannya bagai kepemilikan laki-laki” -hal 32.

Sejarah perempuan tidak pernah berhenti dalam urusan rumah tangga saja. Dari ribuan tahun, perempuan telah menjadi agen dalam membangun peradaban” -hal 43.

Banyak laki-laki yang juga menjadi korban kekerasan seksual, namun banyak yang tidak mau berbicara karena takut dianggap sebagai laki-laki lemah. Padahal, bukan itu masalahnya. Feminisme juga memberikan ruang untuk laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual” -hal 119.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai