Menjadi Tidak Baik-Baik Saja Adalah Hal yang Biasa Saja

Bagaimana rasanya jika nyaris seluruh usia hidupmu kini, selalu berada di dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan?

Memiliki banyak masalah, namun tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menyelesaikan bahkan mengungkapkannya. Terlalu banyak ketakutan dan kecemasan dalam menerka ketika ingin mencoba terbuka. Yang pada akhirnya malah memilih untuk berdiam dan memakan semuanya sendirian dan bertindak seolah tidak ada apapun yang terjadi. Semua terlihat menyenangkan, terlihat baik-baik saja.

Mari kuceritakan sebuah fakta dari diriku sendiri.

Alasanku berkuliah jauh dari keluarga bukan karena aku memang ingin berada di sana. Bahkan aku tidak pernah melihat kampus yang kini menjadi tempatku menempuh pendidikan selama beberapa tahun ke depan sebelumnya. Modal nekat, asal pilih, dan syukurlah aku diterima. Aku ingin kabur, melepaskan diri dari jeratan lingkungan keluargaku yang nyaris membuatku menjadi sosok yang tidak pernah baik-baik saja.

Sejak kecil baik aku dan adik-adikku tidak pernah diizinkan menangis untuk mengekspresikan kekecewaan kami, bahkan kami kalau bisa dilarang untuk merasa kecewa. Aku besar dalam lingkungan yang harus mengiyakan segalanya, tanpa bisa bersuara mengenai apa yang salah dalam sistematika keluargaku. Aku tidak pernah mendengar ucapan permintaan maaf ketika ayahku melakukan kesalahan yang sungguh luar biasa menyakiti hinga ujung terdalam perasaanku, malah membalikkan seolah aku lah penyebab segalanya. Aku tidak pernah mendapatkan penghiburan dari ibuku ketika aku menangis semalaman karena perbuatan ayahku dan memintaku untuk menerimanya saja, tapi aku tahu ibuku juga sama terlukanya dengan diriku namun kupikir beberapa perasaannya telah mati karena terlalu terbiasa menjadi sosok yang menerima dan mematuhi apapun tentang suaminya. Bahkan jika ditelisik lebih dalam, sesungguhnya aku tidak pernah mendengar “Apakah kakak baik-baik saja?” dari kedua orang tuaku dan adikku. Tidak ada yang peduli apakah perasaanku baik baik saja selama 19 setengah tahun aku bernapas. Aku hidup dengan finansial yang sangat memuaskan namun kesehatan jiwaku berada di titik 0.

Segalanya kulalui dalam diam, membiarkan segalanya menumpuk di dalam hingga rasanya sesak selalu menghantui pernapasanku. Tidur yang tidak tenang, bahkan tidak mampu berkonsentrasi pada apapun.

Hingga sampai pada waktu aku hidup sendiri, jauh dari jangkauan keluargaku. Aku menemukan mengapa hidupku merasa tidak nyaman selama ini. Setelah aku bertemu beberapa orang baru yang tidak mengenaliku sama sekali sebelumnya, aku menemukan jawaban atas pertanyaanku yang mungkin sudah menjamur di dalam diriku.

Aku tidak pernah mengakui bahwa diriku sedang tidak baik-baik saja.

Aku selalu merasa bahwa diriku sanggup menahan semua masalah dalam diri, merasa jika aku tampak memiliki masalah aku adalah manusia paling lemah di muka bumi. Padahal semakin aku memendamnya, aku malah semakin terlihat seperti manusia yang payah karena lemah akibat digerogoti masalah dari dalam.

Setelah diriku mulai sedikit demi sedikit berdamai dan mengakui bahwa aku tidaklah selalu dalam keadaan yang baik, hidupku mulai perlahan membaik. Meski segalanya tidak pernah kuceritakan kepada teman terdekatku, mengungkapkannya lewat tulisan juga sudah sangat memberiku kekuatan.

Bahwa kita hanya perlu mengakui pada diri sendiri, kalau kita tidak selamanya akan baik-baik saja.

Tidak apa-apa jika kamu merasa kamu sendiran. Tidak apa-apa jika kamu merasa gagal dengan pencapaianmu. Tidak apa-apa jika kamu merasa kehilangan. Tidak apa-apa jika kamu menangis dan marah tanpa sebab. Tidak apa-apa jika kamu merasa dirimu merasa uring-uringan. Tidak apa-apa jika kamu berkeluh atas apa yang terjadi hari ini. Tidak apa-apa jika kamu kecewa pada dunia.

Semua orang akan merasakan tidak baik-baik saja, pasti setiap kepala memilika fasenya masing-masing. Bak hal tersebut merupakan jatah setiap individu.

Namun jangan lupa, kamu wajib untuk bangkit agar dirimu pulih kembali.

Merasa tidak baik-baik saja adalah hal yang biasa saja untuk kita semua.

Segelas Teh dan Sejumput Lara

   “Teh hangat?”

   Segelas teh yang tampaknya masih cukup panas –terlihat dari asap yang mengepul di atasnya diulurkan padaku. Aku menoleh, melihat siapa sosok yang memberikannya dan setelah melihatnya aku tersenyum kecil lalu mengambil gelas tersebut. Menggenggam gelas berwarna putih gading itu dengan kedua tanganku, menyalurkan panas dari gelas tersebut ke tanganku. “Terima kasih,” ucapku pelan lalu meminum sedikit teh itu. Ah, rasanya pas. Tidak terlalu manis dan tidak terlalu tawar.

   Terasa kursi di sebelahku berderik perlahan, tanda bahwa sosok yang memberikanku teh itu duduk di sebelahku, pun sembari menyeruput minumannya. Tampaknya segelas es latte yang selalu ia pesan jika sedang ke kedai kopi. Tiba-tiba aku merasa tergelitik, aku kan sedang berada di kedai kopi, mengapa ia memberikanku segelas teh hangat?

   “Hari yang berat harus diobati dengan teh hangat.” Belum saja sempat kutanyakan, ia sudah berkata menjawab pertanyaan yang mengambang di kepalaku. Ia tampak tenang menatap keramaian jalan raya di malam hari dari balkon kedai ini. Sesekali tangannya bergerak mengaduk lattenya dengan stainlees straw berwarna silver yang selalu kiubawa kemana-mana untuk kami berdua –berjaga-jaga jika mendadak ingin membeli minuman sekaligus mengurangi sampah plastik yang sudah tidak terhingga jumlahnya.

   Mendengar jawabannya, sebelah alisku terangkat. Agak familiar dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan. “Hei itu kan ucapanku!” Mengingat bahwa itu adalah ucapanku sendiri ketika ia bertanya mengapa aku selalu membawa segelas besar teh hangat ketika pergi ke kampus. Alasannya sederhana saja, ketika sedang pusing dengan tugas yang menumpuk setinggi Gunung Merapi, sakit perut akibat semalam berpesta seblak dengan tingkat pedas yang sebenarnya aku tidak mampu tolerir, atau bahkan ketika masa bulananku datang hingga rasanya tidak mampu duduk, segelas teh hangat selalu hadir untuk meredakan segalanya.

   “Tentu saja aku ingat.” Kali ini ia menyuapkan sepotong roti bakar coklat ke dalam mulutnya. “Kau bahkan pernah berkelakar karena dokter kecil di jaman SD hingga SMA lah yang menginspirasimu kalau teh hangat adalah obat segalanya,” lanjutnya. Raut wajahnya seperti mengejek begitu mengulangi alasan anehku begitu mencintai minuman berwarna coklat tersebut.

   Aku menjitak dahinya, menyebabkan secara spontan ia langsung memelototiku dan sedikit menjauhkan posisinya dari sampingku. Namun hanya sesaat, sebab ia langsung kembali menggeser kursinya mendekatiku. Ia melepaskan jaket abu-abu favoritnya –disamping jaket hitamnya yang selalu ia kenakan kemanapun ia pergi. Lalu meletakkannya di atas meja. Sebelah tangannya bergerak untuk mengacak-acak rambut hitamnya sehingga aroma shampoo yang ia gunakan sedikit tercium indra penciumanku, aroma mint. Aku tetap memerhatikan pergerakannya dalam diam sampai ia menghadapkan tubuhnya untuk berhadapan denganku.

   “Ada apa?” tanyanya. Satu pertanyaan yang selalu ia lontarkan begitu melihat diriku lebih banyak diam daripada seharusnya. Aku justru merasa aneh jika kau tidak banyak berteriak, tertawa tidak tahu diri, dan memukuli siapapun ketika tertawa, begitu katanya pada suatu hari. Ia tidak menatapku, tampak sibuk menyingkirkan parutan keju yang menggunung di atas roti bakarnya lalu dikumpulkannya keju tersebut di sebuah sendok kecil yang seharusnya digunakan untuk mengaduk teh hangatku. “Ini, kau suka keju kan?” tanpa banyak bicara, ia langsung menyerahkan gagang sendok itu ke arahku, terlihat juga ia tidak memaksaku untuk langsung bercerita. Ia memilih menungguku berbicara.

   “Biasa.” Hanya itu yang kuucapkan dengan nada datar namun di telingaku lebih seperti nada sedih yang rasanya sudah tidak berujung. Aku memilih meletakkan gelas yang sejak tadi kugenggam ke meja lalu mengambil sendok berisi parutan keju tersebut dan mengarahkannya ke dalam mulutku. “Ayah, lagi-lagi berulah.” Aku mengucapkannya sembari mengunyah, tidak peduli terlihat sopan atau tidak di depannya, aku tidak peduli. Toh ia sudah lama berteman denganku, dan sudah nyaris memamklumi perilaku ku yang sama sekali tidak ada anggun anggunnya.

   “Hm…” Ia menggumam, sepertinya sudah tahu apa yang terjadi padaku. Sejak awal berteman denganku, ia mengetahui permasalahan terbesarku. Aku tidak pernah memiliki hubungan yang baik dengan ayahku. Sejak awal aku bak robot baginya, memenuhi ambisinya yang tidak dapat ia raih lalu memberikan segala bebannya padaku. Tidak ada satupun yang dapat menolongku keluar dari lingkaran setan tersebut. Menyebabkan diriku terjebak di dalam kehilangan jati diri atas diriku sendiri selama nyaris dua puluh tahun usia ragaku bernapas. Pun aku telah berusaha untuk lari, namun ternyata cengkramannya lebih kuat. Rantainya terlalu kencang terpasang di leherku, menyebabkanku tak bisa kemana-mana.

   Aku menghela napas pelan, lebih ke arah merasa sangat putus asa. “Ia bertanya padaku, apa rencanaku ke depannya.” Aku bahkan enggan memanggilnya dengan sebutan ‘beliau’. Rasa respectku padanya semakin hari semakin menipis. Pun jika ditambah dengan beberapa kekerasan fisik yang kuterima saat kecil dan kekerasan verbal yang terkadang masih berlangsung hingga saat ini dengan dalih kedisiplinan semakin membuatku merasa bahwa aku tidak memiliki sesosok ayah yang hangat dan ideal. Ayah mana yang membuat putrinya menjadi takut hanya karena suara teriakan dan bentakan? Ayah mana yang membuat putrinya nyaris tidak memercayai bahwa ada sosok yang bisa dijadikan sandaran ketika putrinya sedang bersedih?

   “Lalu?” ia mengalihkan pandangannya dari piring roti bakarnya yang sejak tadi mencuri perhaiannya, lalu beralih menopangkan dagunya dengan tangannya dan menatapku dengan tatapan tajam namun meneduhkannya.

   “Tadinya aku memilih enggan menjawab, lagipula kita masih di semester awal. Aku bahkan masih tidak bisa membedakan apa itu ekskresi dan sekresi. Tapi ia memaksa, lalu kujawab saja keinginanku untuk mengambil spesialis kejiwaan.” jeda sejenak, tiba-tiba rasa sesak melingkupi dadaku. Aku langsung meraih gelasku dan meminum isinya. Merasa lebih baik, aku melanjutkan, “Begitu mendengarkannya, ia langsung membantahku. Bahkan tidak mau mendengarkan alasanku mengapa aku memilih itu. Ia langsung menceramahiku bahwa itu adalah bagian tidak jelas. Lalu dengan sok jumawanya ia hanya merestuiku untuk masuk bagian maternitas, dan seperti biasa ketika lulus nanti aku langsung disuruh mendaftar prajurit karir. Bah! Bahkan melihat ia mengenakan seragam tentara saja aku sudah muak!” Seluruh emosiku mendadak mengumpul di tenggorokanku.

   “Mau sampai kapan aku bukan aku? Sampai aku mati? Kalau begitu mengapa aku tidak mati sekarang saja? Toh sama saja, ragaku yang meninggal namun entah siapa jiwa yang menghuni tubuhku.” Aku sadar, ini terlalu kelewatan untuk diungkapkan kepada sosok laki-laki di hadapanku ini. Ia sudah tahu terlalu banyak tentangku. Kedua mataku terasa panas, air mata rasanya sudah mengumpul di pelupuk mata. Memalingkan wajah, dengan cepat aku meminum teh yang mulai mendingin. “Maaf, kau pasti lelah kan mendengar masalahku,” ujarku tanpa memandangnya sama sekali.

   Ia tidak menanggapi ucapanku, malah bergerak menyeret kursinya semakin mendekat padaku. memosisikan tubuhnya menghadap balkon kedai, posisi yang sama sepertiku. Lalu kudengar ia menghembuskan napasnya panjang.

   Aku sedang mati-matian menahan tangisanku yang rasanya sudah memaksa untuk dikeluarkan saat ini juga. Ditambah suasana kedai yang tidak terlalu ramai dan lagu bertempo lambat semakin mendukung suasana untu menangis. Tidak, aku hanya tidak ingin menangis lagi di hadapannya. Entah yang keberapa kalinya jika kali ini aku menangis lagi ketika bersamanya.

   Tanpa peringatan, sebuah tangan yang kuyakini adalah tangannya menarik kepalaku. Hingga kurasakan kepalaku menyentuh sesuatu yang keras namun cukup nyaman ketika bersandar di sana. Bahunya. Ia menarikku untuk bersandar di bahunya. Aku tidak bergerak, membiarkan kepalaku berada di sana sembai menatap kendaraan yang berlalu-lalang di bawah. Pun setelah membuatku bersandar di bahunya, ia memilih meminum sisa lattenya yang tinggal setengahnya hingga tandas. Diam-diam aku menarik napas, aroma khas sabun menyeruak begitu aku menarik napas. Kami terdiam, sama sama membiarkan waktu berjalan dengan tenang.

“Aku tidak jago untuk memberikan kata-kata penenang,” ucapnya setelah entah berapa lama kami terdiam. Tangannya bergerak memelintir kertas bon pembayaran kami di kedai ini, membiarkannya menjadi gulungan kertas yang sangat kecil. “Tapi setidaknya aku ingin kau bercerita, ku mohon jangan pendam semuanya sendirian. Kau terlalu berharga untuk menanggung segalanya sendirian.”

   “Lalu menangislah, kau berhak menumpahkan segala sesuatu yang membebani bahumu dengan air mata. Kau adalah manusia. Sangat wajar jika kau menangis ketika segala sesuatu rasanya membuatmu berada di penghujung harapan. Bagiku lebih baik rasanya jika kau menangis histeris di hadapanku daripada kau melukai tanganmu.” Ia merujuk pada garis-garis panjang berwarna kemerahan yang terlukis di pergelangan tanganku.

   “Meski kau menjadi orang lain di hadapan keluargamu dan banyak orang, kuharap kau mau menunjukkan dirimu yang sebenarnya di hadapanku. Setidaknya biarkan kau merasa bebas meski hanya di hadapan satu orang saja. Dan aku selalu terbuka menerimamu apa adanya.”

   Aku terisak pelan. Kata-katanya begitu menyentuhku hingga rasanya nyaris separuh bebanku terangkat mendengar ucapannya. Tangannya mengelus kepalaku pelan, membiarkanku nyaman dengan isakanku sendiri.

   “Mungkin bagimu rasanya terlalu sulit, namun kuharap kau mau tetap berjuang melanjutkan hidupmu.

Starlight

“Salah tidak jika aku berharap suatu saat nanti, antara kau dan aku mengelilingi Jakarta, saling bergenggam tangan. Seolah hanya kau yang ada di mataku, lalu sebaliknya.” suaraku membelah keheningan yang sudah menyelimuti selama lebih dari lima menit.

   Dia yang berdiri di sebelahku hanya terdiam, namun senyum tipisnya mengembang samar. Rambut hitamnya yang halus bergerak pelan karena angin dingin di malam hari yang terus bertiup. Hidungnya tampak sedikit memerah, mungkin karena suhu dingin yang mulai membuat tubuh mengirimkan sinyal untuk segera berpindah ke tempat yang lebih hangat. Matanya sama sekali tidak berpaling dari pemandangan yang terbentang dihadapannya. Pemandangan kerlap kerlip lampu dari rumah, jalan raya, dan kendaraan yang berlalu lalang terlihat dengan sempurna dari atas bukit ini.

   “Bahkan memikirkan akan pergi ke sana saja tidak.” tiba-tiba suara rendahnya menyapa indera pendengaranku. Namun ia masih sama, tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Aku mendengus pelan, namun cukup membuat ia mendengar lalu mengalihkan pandangannya padaku. “Memang kenapa dengan Jakarta? Dan mengapa harus bergenggaman tangan?” ia bertanya dengan nada yang datar, sebuah hal yang memang sudah melekat dengan dirinya. Nyaris tidak pernah ia menampilkan berbagai emosi di wajahnya.

   Aku mendadak merasa gugup saat mata tajamnya menatapku, kepalaku otomatis bergerak mengalihkan diri darinya. Kedua tanganku saling mengaitkan di depan tubuhku, meski tidak terlihat karena tenggelam oleh lengan jaketku yang cukup besar. “Salah satu impian kecilku.” hanya itu yang kukatakan. Ku dengar ia hanya bergumam, meminta penjelasan lebih lanjut. Tentu saja aku akan melanjutkan. “Jakarta adalah surga saat malam hari, lampu dari berbagai gedung pencakar langit, tempat makan yang luar biasa –“

   Ia tiba-tiba tertawa. “Kau benar-benar pecinta makanan ya.” potongnya. Tawanya tampak begitu puas, membuatku terkesima melihatnya. Ia merasa bahwa dirinya dilihati, seketika meminta maaf, “ Ah, aku memotong pembicaraanmu ya? Aku tidak bermaksud kok, cepat-cepat lanjutkan.” Ia mengucapkannya namun tawa kecilnya masih terus terdengar.

   Aku sedikit cemberut, namun tetap melanjutkan. “Yah intinya aku ingin berkeliling Jakarta sambil bergengaman tangan. Rasanya jika kau bergenggaman tangan dengan orang yang kau inginkan itu, benar-benar indah.” aku menutup ucapan anehku itu dengan kekehan kecil.

   Kudengar ia menghembuskan nafasnya sedikit keras, membuatku mau tidak mau menoleh ke arahnya. Ia menatapku, tepat di manik mataku. Hal yang membuatku terpaku tentu saja. Tatapanya adalah kelemahanku. Tidak, ia adalah sumber kelemahanku juga sumber kekuatanku. Ia adalah satu-satunya orang yang tak banyak bertanya ketika aku menangis keras tanpa sebab, hanya menungguku hingga sedikit tenang pun ia tidak bertanya sama sekali mengapa aku menangis, ia tetap diam di sebelahku hingga akhirnya akulah sendiri yang akan bercerita. Sosok yang duduk diam di sebelahku sembari memainkan handphonenya ketika aku memilih menyendiri dan tidak berbicara sama sekali pada siapapun. Ia tahu, di saat aku menyendiri di sanalah aku membutuhkan seseorang. Ia yang juga diam-diam sering memperhatikanku saat diriku sedang ‘menggila’ dengan teman-temanku, ia melihat dari jauh dan aku tahu ia melihatku meski aku memilih berpura-pura tidak tahu.

   “Kenapa denganku?” ia tiba-tiba bertanya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantung hoodie hitam kesukaannya –aku tahu karena hampir setiap saat ia mengenakan itu. Tubuhnya ia senderkan di sebuah pohon besar di belakangnya, matanya masih lurus menatapku.

   “Karena…” aku bingung, tidak siap sama sekali untuk melanjutkannya. Tidak siap karena kalimat selanjutnya adalah sebuah pengakuan yang nyaris setengah tahun ku pendam. Takut jika ia mendengarnya ia akan menjauh, menghilang dari pandanganku, membayangkannya saja aku sama sekali tidak mampu. Kepalaku mendadak terasa penuh dengan perkataan “Jangan terburu-buru bodoh.” namun hatiku bersuara kecil, “Inilah saatnya”. Mampuslah aku dikoyak oleh kebingungan ini.

   Akhirnya aku memilih mengangkat kepala, balas menatapnya lekat-lekat. Dan meluncurlah kalimat selanjutnya yang sudah kupikirkan matang-matang. “Entah, hanya kau yang terlintas di kepalaku.” Singkat, namun cukup menjelaskan semuanya.

   Ia tampak terkejut namun dengan cepat menutup keterkejutan tersebut dengan berdeham. Wajahnya dipalingkan ke samping sepertinya ia salah tingkah. Menggemaskan sekali. Lalu beberapa saat kemudian kepalanya kembali menghadapku. Tidak ada ekspresi apapun di sana, jadi sulit menerka apa yang sedang ia pikirkan sekarang.

   Merasa canggung total, aku memalingkan badan. Memandang langit malam yang cerah terbukti dengan beberapa titik bintang yang terlihat. Tanpa sadar tanganku bergerak untuk saling menggosok, suhu semakin dingin dan sialnya aku bukanlah tipe manusia yang tahan dengan suhu terlalu rendah. Hidungku rasanya nyaris membeku, oh bisakah ia mengatakan sesuatu atau beranjak dari tempat ini?

   “Dingin ya.” Seolah bisa membaca isi pikiranku, ia berkata sambil menaikkan resleting jaketnya. Menutupi nyaris seluruh lehernya. Sebelah tangannya merapikan helaian rambutnya yang agak berantakan. “Kabut juga semakin tebal,” lanjutnya.

   Aku hanya mengangguk. Merasa aneh bahwa ia sama sekali tidak terganggu dengan pengakuanku tadi. Berbagai spekulasi jawaban melintas di otakku. Apakah ia akan menjauh? Apakah ia tidak peduli, karena sejak awal memang ia tidak peduli? Aku merutuk atas kebodohanku yang benar-benar tidak dapat diampuni.

   “Hey, berikan tanganmu.” Suaranya tiba tiba membuyarkan rutukan tidak sopanku.

   Aku menatapnya bingung. “Tangan?” namun aku tetap memberikan telapak tangan kananku padanya.

   Sepersekian detik kemudian adalah mimpi. Tidak, ini nyata. Entah aku tidak peduli apakah ini mimpi atau tidak, ini benar-benar di luar dugaan. Sesaat setelah aku mengulurkan tangan, telapak tangannya menggenggam tanganku, menutupi seluruh telapak tanganku dengan telapaknya yang cukup besar. Hangat, itulah yang kurasakan saat ia menggenggamku. Tangannya tidak seperti orang yang sedang berada di tempat yang dingin. Ia menggenggamku dengan erat, tampak gugup dengan perilakunya sendiri. Wajahnya pun sama sekali tidak melihatku, kentara sekali kalau ia malu. Aku? Jangan tanyakan aku, aku sudah di langit ke tujuh sekarang.

   “Hm, ternyata menyenangkan,” ujarnya tiba-tiba, dan tanpa kuduga ia sudah menatapku dengan senyum kecilnya.

   Sumpah, aku tidak sanggup melihatnya. Jadi aku hanya menunduk, menatap tanganku yang bertaut dengan tangannya. “Apa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku.

   “Menggenggam tanganmu, ternyata semenyenangkan ini.”

Pisah

menghitung bulan, jam, detik.

riang tawa masih kental di udara.

meski bayang pisah mulai menguak.

kursi, meja, ubin.

saksi bisu riang, sedih, lelah.

sulit mengelak untuk bersiap.

sebab sudah tak ingin bersama yang lain.

namun begitu menggebu.

bagaimana menuju dunia yang lebih tinggi.

keringat, air mata, air kopi.

memori mulai menyimpan banyak hal.

yang lima atau bahkan satu tahun lagi akan sangat dirindu.

aku, kau, dia.

frasa yang tidak ditemukan benang merahnya.

cinta, persahabatan, putus, permusuhan.

terlalu banyak yang dirasakan.

meski rasa-rasanya kurang rasional.

(2019)

Binara Benci

kecewaku tak pernah kau anggap hidup.

lantas setelah itu diri bertanya, seberapa pantas untuk kembali percaya?

untuk apa ada jika kecewa mengiring sembunyi.

manusia semakin aneh, semakin tak tahu, semakin serampang.

sebegitu seenaknya datang lalu membuang.

mempermainkan hanya karena ingin.

meladeni karena merasa tak enak.

meninggalkan karena bosan.

berperilaku hingar bingar guna lara tertutup.

atau alim syahdu supaya bangsatnya tak ditemu orang.

rasa-rasanya memang sudah tak pantas percaya kembali muncul.

Nb : Tulisan ini ditulis pada Februari 2019 dalam rangka merayakan kehilangan.

Perkenalan

Halo, sebenarnya sulit memperkenalkan blog ini lalu mengaitkannya padaku. Tapi mari dipermudah saja, blog ini adalah hasil isi kepalaku yang ruwetnya mengalahi hiruk-pikuknya kemacetan Jakarta pada Senin pagi. Isinya bisa sesingkat suka, namun kadang bisa sepanjang duka.

Mayoritas ku isi dengan sajak puisi yang begitu abstrak, yang kadang aku sendiri lupa mengapa aku menuliskannya. Tapi sumpah, isi puisi itu adalah jujur. Sebab aku menjadi pribadi yang begitu jujur jika sudah menulis.

Beberapa ku isi dengan berbagai cerita yang ku alami, kubuat dengan memperhalus kalimatnya. Rasanya senang sekali, bagai mendongengkan diri sendiri. Terkadang aku menambahkan beberapa hal yang bisa kurekomendasikan padamu.

Hanya itu saja,

Semoga bahagia selalu setia menemanimu 🙂

Berita Kematian

/1

Telah diumumkannya melalui pengeras suara di selatan;

Perihal matinya tarian perayaan.

Lalu pada bakti sore tadi  pun;

Teriakan “ganyang upacara di utara!” terhimpun.

Malam yang  jelaga meraung durjana;

Lagi-lagi satu dua bahkan hingga berbelas belas budaya wafat;

Pamit atas bendera putih yang terkibar dari peperangan melawan golongan kuasa.

/2

Sang Ibu Pertiwi histeris mengiris;

Anak-anak rahimnya mulai tergerus;

Ia rawat dalam dekade hingga abad tak terbatas;

Hancur di jari jemantik para culas;

“Terlalu terbuka!” “Melenceng norma!” “Kafir!” “Menduakan Tuhan”

Menggonggong mereka para alergi budaya bak anjing gurun yang haus.

/3

Kepala Sabang hingga Merauke meriuh,

Pun isi dalam jemala sang ujung batas utara dan selatan pembatas negeri;

Mengutuk pada pembunuhan;

Sang tarian,

Khidmatnya upacara,

Dan satu dua bahkan belas khas lainnya.

Mencoba mempertahankan saudara kandungnya;

Sang pemberi indah penyejuk mata;

Penabur ragam yang mendalam;

Pada bumi sejuta bunga budaya.

Nb : Tulisan ini digunakan untuk seleksi DAC FK 27 Maret 2020 🙂

ONGENTITLED

Bagaimana rasanya jika bertemu seseorang yang paham dirimu meski kau tidak berkata apapun tentang dirimu? Menyenangkan bukan? Tidak, lebih tepatnya bahagia. Merasa lebih tenang sebab kau tahu ternyata tidak benar-benar sendirian. Merasa lebih lega karena ada tempat dimana dirimu sebenarnya lah yang hadir. Bukan topeng yang sering dipasang menunjukkan sisi ramah, humoris, banyak bicara, dan tegas. Suatu hal yang benar-benar menyedot habis seluruh tenaga. Di hadapannya kau mampu menangis tanpa peduli seburuk apa tampilan wajahmu, lalu tertawa seluas-luasnya karena ia selalu mengucapkan apapun dengan volume suara yang super kecil, membuat dirimu seolah manusia paling bolot yang hidup di sejarah peradaban bumi. Atau bahkan kau bisa mendiamkannya selama setengah jam meski ia berada di sebelahmu, ah ia juga tidak mengucapkan apapun. Hanya diam, asik memikirkan dunianya. Ia selalu hadir meski kau tidak mengharapkan kehadiran siapapun, meski dari lubuk hati paling dalam kau mau satu atau bahkan kalau bisa setengah jiwa manusia tahu kalau kau sebenarnya butuh kehadiran.

Bagaimana jika ia hadir melebihi ekspetasimu? Kau hanya ingin ia sekadar hadir dan memberi penenang sesaat ketika badai melanda dirimu. Memberi pegangan saat kau benar-benar terguncang. Ia nyaris selalu hadir memberimu seluruh ketenangan yang kau butuhkan. Ia hadir jauh lebih lama dari yang kau pikirkan, memberi kesan yang lebih dalam dari yang dilihat. Bahkan mengerikannya, ia meninggalkan jejak di sudut ruang yang sudah kosong sejak lama. Sengaja tidak diberi penghuni sebab si pemilik enggan untuk membersihkan sisa-sisa peninggalan jika lagi-lagi penghuninya meninggalkan tanpa peringatan, membiarkan segalanya berantakan dan rusak di dalamnya. Ia hadir seolah membuang peninggalan dan memberi tanda bahwa ia ingin menghuni, membayar uang muka dan mencicil sisanya.

Berhenti membicarakan ruang kontrakan hati yang sungguh tidak penting itu, kembali ke inti.

Kau menemukannya, setengah dunia yang selama ini kau cari. Pencarian yang susah payah, penuh kesesatan, dan arul rintang yang tidak tentu. Menemukan tujuanmu, menemukan salah satu alasan bahwa dirimu ingin memperpanjang durasi hidupmu dan mewarnainya. Ia tidak mengkhianati, menyambut dan membuka nyaris seluruhnya padamu. Memberimu kesempatan untuk mengenalinya lebih jauh. Bahwa ia nyaris sama sepertimu, bedanya ia tidak memasang topeng yang terlalu mencolok sepertimu. Sejak awal ia sudah terlihat cukup gelap, kelam, dan sulit didekati.

Kau bahagia sekali. Sangat bahagia. Hingga satu harapan yang sedikit melunjak muncul. Bisakah kau dengannya bersama? Berbagi cerita bagaimana keadaanmu hari ini? Atau bisa juga kau yang berceloteh mengenai bagaimana beratnya kelas hari ini, bagaimana teman cowok mu berperilaku sangat aneh hari ini. Bahkan kau ingin menangis di hadapannya tanpa alasan, kau merasa sesak dan butuh menangis, tanpa sendirian. Kau mungkin juga berharap bisa pergi mencari makanan entah sekadar mi goreng kesukaanmu atau bahkan berbicara selama mungkin di coffee shop.  Kau ingin ia selalu ada di sisimu, tidak peduli apakah berteman atau bahkan lebih dari sekadar itu.

Nyatanya memang semua harapan tidak pernah nyata bagimu. Semuanya semu bahkan lenyap. Ia bagaikan jin lampu yang memberikanmu tiga permintaan lalu tak mampu memberikan permintaan ke empat meskipun sebenarnya ia sangat ingin. Apa daya ia memegang keteguhan bahwa ia tak bisa melanggar perintah untuk memberi tiga permintaan saja. Lagi lagi kau hancur.

Kali ini hancur seutuhnya.

7.12//08.03.20

Kembali Pada SMA

Kudengar banyak yang ingin kembali pada SMA

Mengenang masa pertemanan yang tak akan melupa

Riuh redam kisah kasih yang selalu terpatri di kepala

Hingga temu pisah yang tak diduga

.

Namun ternyata diri enggan kembali

Teringat pada kelam legam kenangan yang mengunci

Pada seluruh malu yang hinggap menguliti

Trauma dengan setia tanpa lelah mengikuti

Kehancuran dan ketakutan yang masa itu ia awali

.

Mereka berdusta

Atas apa apa yang ingin mereka kembali bawa

Kenangan yang selalu mereka banggakan dengan jumawa

Membawa jentaka legam yang diharap mampu ku lupa

Ucapan Penghujung Tahun

Semuanya mengucap terimakasih

Pada tuan tuan mereka yang memberi kasih

Atau pada puan puannya yang rela menyapih

Lain kepala lain yang diberi lirih

.

Pandanganku berkeliling berpendar

Tak menemukan yang pantas ‘tuk mendapat gelar

Sebab semuanya bubar memencar

Selalu sendiri hingga bergetar

.

Sang Agung memberi sinyal sunyi

Membisik pada siapa mesti diberi

Pada yang tak pernah berpaling meski tak pernah diberi hati

Sekujur bulu kuduk berdiri

Baru memahami bahwa segalanya adalah diri sendiri

Tak pernah marah walaupun selalu disakiti

Dibuat menderita meski selalu memohon henti

Menangislah hingga histeris mati

Bahwa dirikulah yang seharusnya ku beri apresiasi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai