Aku Ingin Kau

Aku ingin tenggelam dalam ceruk tubuhmu yang harumnya menguar hingga tercipta memoar. Mengucap angan yang terbang melalang buana di ruang angkasa dengan lengan yang mendekap nyaman. Atau berbagi hangat dalam senyap meski kadang senyum tiba-tiba merayap. Aku ingin kau begitu dalam sampai rasanya sang waras memilih berpamit undur diri. Aku ingin kau. Begitu dalam. NamunLanjutkan membaca “Aku Ingin Kau”

[Publikasi] Aku Melawan Ruang

Hula halo hai! Jujur rasanya agak kaku untuk mulai menulis di blog ini karena sudah terlampau lama sekali sejak terakhir aku meninggalkan jejak di sini. Ya maklum, ketika kuliah masih berlangsung diriku sama sekali tidak memiliki ide apapun untuk menulis (ya sampai sekarang sih…) Tapi aku rindu sekali menulis disini (ini serius lho) ya tapiLanjutkan membaca “[Publikasi] Aku Melawan Ruang”

Pisah

menghitung bulan, jam, detik. riang tawa masih kental di udara. meski bayang pisah mulai menguak. kursi, meja, ubin. saksi bisu riang, sedih, lelah. sulit mengelak untuk bersiap. sebab sudah tak ingin bersama yang lain. namun begitu menggebu. bagaimana menuju dunia yang lebih tinggi. keringat, air mata, air kopi. memori mulai menyimpan banyak hal. yang limaLanjutkan membaca “Pisah”

Binara Benci

kecewaku tak pernah kau anggap hidup. lantas setelah itu diri bertanya, seberapa pantas untuk kembali percaya? untuk apa ada jika kecewa mengiring sembunyi. manusia semakin aneh, semakin tak tahu, semakin serampang. sebegitu seenaknya datang lalu membuang. mempermainkan hanya karena ingin. meladeni karena merasa tak enak. meninggalkan karena bosan. berperilaku hingar bingar guna lara tertutup. atauLanjutkan membaca “Binara Benci”

Berita Kematian

/1 Telah diumumkannya melalui pengeras suara di selatan; Perihal matinya tarian perayaan. Lalu pada bakti sore tadi  pun; Teriakan “ganyang upacara di utara!” terhimpun. Malam yang  jelaga meraung durjana; Lagi-lagi satu dua bahkan hingga berbelas belas budaya wafat; Pamit atas bendera putih yang terkibar dari peperangan melawan golongan kuasa. /2 Sang Ibu Pertiwi histeris mengiris;Lanjutkan membaca “Berita Kematian”

Kembali Pada SMA

Kudengar banyak yang ingin kembali pada SMA Mengenang masa pertemanan yang tak akan melupa Riuh redam kisah kasih yang selalu terpatri di kepala Hingga temu pisah yang tak diduga . Namun ternyata diri enggan kembali Teringat pada kelam legam kenangan yang mengunci Pada seluruh malu yang hinggap menguliti Trauma dengan setia tanpa lelah mengikuti KehancuranLanjutkan membaca “Kembali Pada SMA”

Ucapan Penghujung Tahun

Semuanya mengucap terimakasih Pada tuan tuan mereka yang memberi kasih Atau pada puan puannya yang rela menyapih Lain kepala lain yang diberi lirih . Pandanganku berkeliling berpendar Tak menemukan yang pantas ‘tuk mendapat gelar Sebab semuanya bubar memencar Selalu sendiri hingga bergetar . Sang Agung memberi sinyal sunyi Membisik pada siapa mesti diberi Pada yangLanjutkan membaca “Ucapan Penghujung Tahun”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai